Jumat, 12 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Liga Champion

Pertarungan Bergengsi dan Ukir Sejarah Baru

emaram cahaya ratusan ribu bola lampu Fussball Arena, akan menyinari kota Muenchen, Sabtu (19/5/2012) malam.

Tayang:
Editor:
zoom-inlihat foto Pertarungan Bergengsi dan Ukir Sejarah Baru
AFP/ CHRISTOF STACHE
Stadion Allianz Arena di kota Muenchen yang akan menjadi tempat digelarnya partai final Liga Champions antara Bayern Muenchen dan Chelsea, Sabtu (19/5/2012)

TRIBUNMANADO.CO.ID
- Temaram cahaya ratusan ribu bola lampu Fussball Arena, akan menyinari kota Muenchen, Sabtu (19/5/2012) malam. Di dalam kemegahan stadion berukuran total 7992 meter persegi dengan kapasitas 66.000 penonton itu, 22 manusia dengan gigih unjuk kekuatan. Bagi mereka, tidak ada kata selain terus berjuang untuk satu tujuan, membuat sejarah baru.

Ya, di stadion yang terletak di jantung kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa itu akan digelar perhelatan akbar final Liga Champions antara Bayern Muenchen dan Chelsea. Kedua klub dipastikan akan bertarung mati-matian untuk menorehkan namanya dalam sejarah kompetisi tertinggi Eropa tersebut.

Bagi Bayern, laga kali ini adalah kesempatan untuk membayar tuntas performa buruknya di kompetisi Bundesliga musim ini. Dua kali dipecundangi Borrussia Dortmund dan hanya harus puas duduk di peringkat kedua Bundesliga dan kalah 2-5 di DFB Polka, tentu menjadi lecutan keras untuk mereka. Jika sukses, publik Muenchen tentunya dapat menghapus kecewa dengan rasa bangga.

Harapan Chelsea tak kalah istimewa. Bagaimana tidak, rasanya satu-satunya yang pantas mengimbangi gelontoran ratusan juta poundsterling untuk belanja pemain adalah gelar juara dalam liga terelit di Eropa ini. Belum lagi, partai ini adalah satu-satunya kesempatan "The Blues" untuk dapat kembali tampil di Liga Champions musim depan, setelah hanya harus puas duduk di peringkat enam klasemen akhir Premier League musim ini.

Selain itu, kedua klub akan membawa nama besar masing-masing negara untuk berjaya di kancah tertinggi Eropa. Tak ayal, laga kali ini bukan lagi soal gengsi menang atau kalah. Melainkan, urusan rivalitas sejarah kedua negara yang sudah puluhan dekade tercipta.

Rivalitas

Jika menelisik sejarah panjang rivalitas negara kedua klub itu, memang tidak hanya terjadi dalam urusan sepak bola. Politik Lebensraum (perluasan ruang hidup) yang dijadikan acuan Jerman untuk memicu Perang Dunia II, membuat Inggris dengan lantang menyatakan perang. Jerman kuat, tetapi Inggris lebih hebat. Infanteri Jerman memang berhasil menduduki beberapa daratan Eropa. Tapi, jika urusan perang udara, Inggris Raya dapat membusungkan dada.

Kapal perang Jerman Tirpitz di bawah pimpinan Nazi Adolf Hitler pernah merasakan kehebatan angkatan udara Inggris, Royal Air Force (RAF) pada sejumlah operasi udara pada PD II.  Hingga akhir perang itu berkecamuk pada 1945, puluhan pabrik dan rumah di seluruh Reich pun menjadi bulan-bulanan oleh angkatan udara Britania Raya. Jerman pun takluk dan akhirnya menyerah.

Walhasil, itu menjadi kenangan pahit tersendiri bagi Jerman. Dendam kesumat kemudian merambah dalam urusan sepak bola. Lihat saja, perseteruan timnas Jerman dan Inggris dalam sejumlah kompetisi internasional. Bahkan, salah satu legenda "The Three Lions", Gary Lineker pernah mengungkapkan kekesalannya terhadap dominasi "Der Panzer" atas negaranya.

"Sepak bola adalah pemainan untuk 22 orang, di mana mereka berlari, bermain bola, dan satu wasit yang beberapa kali membuat kesalahan. Tetapi, pada akhirnya, Jerman selalu menang," ungkap Lineker ketika Inggris dikalahkan Jerman dalam adu penalti pada Piala Eropa 1996.

Akan tetapi, sedikit fakta itu dalam urusan negara. Di level klub sepak bola, Inggris boleh kembali tertawa bangga. Sejarah Liga Champions, terdapat enam final yang mempertemukan klub dua negara tersebut. Hasilnya, Jerman hanya mampu menang sekali, saat Bayern mengalahkan Leeds United pada 1975. Sisanya, Monchengladbach harus mengakui keunggulan Liverpool 0-2 (1977), Hamburg SV 0-1 Nottingham Forest (1980), Bayern 0-1 Aston Villa (1982), Bayern 1-2 Manchester United (1999).


Laga final Liga Champions musim ini antara Chelsea dan Bayern Muenchen dilatarbelakangi sejarah panjang rivalitas negara kedua klub dalam sepak bola. Selain itu, sejarah juga mencatat kenangan pahit dalam rivalitas politik dan militer.

Sejarah baru

Kini dua seteru itu seakan dipertemukan kembali secara dramatis. Ketika semifinal mempertemukan Bayern dan Chelsea masing-masing dengan duo klub raksasa andalan Spanyol, Barcelona dan Real Madrid, tak sedikit publik bola dunia sebelumnya memprediksi bahwa "El Clasico" Barca dan Madrid adalah partai yang pantas untuk menghiasi laga terakhir perhelatan akbar Liga Champions musim ini.

Namun, takdir berkata lain. Jutaan pasang mata pecinta bola menjadi saksi kegemilangan Fernando Torres dan kawan-kawan ketika menjungkalkan tim terbaik di Eropa saat ini, Barcelona di babak semifinal. Begitupun dengan Frank Riberry dan kawan-kawan yang sukses membuat sejumlah bintang "Los Blancos" sakit hati lewat drama adu penalti. Kini kedua klub itu menatap rekor baru di belantara Eropa dengan rivalitas yang menggelora.

Bagi Bayern, jika mampu menang dan juara, mereka akan menjadi tim pertama yang menjuarai Liga Champions di kandang sendiri. Sebelum berubah nama dan format pada 1992, baru dua klub yang mampu menjuarai Piala Eropa di kandang sendiri, yakni Real Madrid (1957) dan Inter Milan. Tim terakhir yang tampil di kandang sendiri, AS Roma kalah dari Liverpool lewat adu penalti pada 1984.

Sementara itu, Chelsea berpeluang menorehkan namanya dalam daftar pemenang turnamen ini untuk kali pertama. Sepanjang sejarah klub asal London ini berdiri, hanya satu kali mereka mencicipi atmosfer partai final, yaitu pada tahun 2008. Itu pun, Didier Drogba cs, harus mengakui keunggulan rival satu negaranya, Manchester United, dalam adu penalti yang berakhir 6-5 usai waktu normal berakhir imbang 1-1.

Tak ada jaminan

Kini, kedua klub tersebut akan bertemu di bawah kemilau lampu Fussball Arena. Chelsea memang memiliki statistik lebih bagus, karena mampu memenangkan satu-satunya laga pertemuan terakhir mereka pada perempat final Liga Champions 2005 dengan agregat 6-5. Akan tetapi, Arjen Robben dan kawan-kawan tentunya mempunyai motivasi lebih besar, karena bermain di kandang sendiri.

Namun, itu bukan jaminan. Kedua klub memiliki kendalanya masing-masing. Chelsea harus kehilangan dua bek andalannya, John Terry dan Branislav Ivanovic karena akumulasi kartu, serta duo gelandang Raul Meireles dan Ramires yang masih cedera.

Bayern setali tiga uang. Pasukan Jupp Heynckes itu juga kehilangan David Alaba, Luiz Gustavo, dan Holger Badstuber karena skorsing. Pemain bintang, Bastian Schweinsteiger juga diragukan kesiapannya tampil dalam laga ini karena cedera.

Tetapi, sejatinya sepak bola bukanlah rumus fisika. Ribuan pertandingan besar maupun kecil pernah menjadi bukti tuah kehebatan olahraga tertua di dunia itu. Tak ada yang bisa diprediksi hingga peluit panjang dibunyikan pimpinan lapangan. Karena itu, rasanya hanya satu yang ada di benak seluruh penggawa Bayern dan Chelsea, yaitu siap mati demi meraih kemenangan.

Boleh saja, ribuan pendukung Chelsea telah menyiapkan pesta di kota London. Begitu pula, dengan keyakinan besar pecinta Bayern yang siap membanjiri Kota Muenchen pada malam nanti. Namun, ratusan juta pasang mata mereka lebih dulu akan tertuju ke Fussball Arena, stadion megah yang akan menjadi saksi bisu para juara memainkan permainan indah untuk merajut kebesaran sejarah negara mereka.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved