Perkebunan
Neti Sulit Distribusi Panen Kayu Manis
Kawasan hutan pinus di ketinggian 700 meter, yang merupakan kawasan yang dilindungi.
Penulis: Fransiska_Noel |
TRIBUNMANADO.CO.ID, GORONTALO - Desa Dulamayo Barat kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo merupakan satu diantara beberapa desa penghasil tanaman kayu manis dan tanaman bumbu lainnya di kabupaten Gorontalo.
Bentuk topografi wilayah yang berada di ketinggian menjadikan desa ini cukup subur untuk ditanami aneka jenis tanaman pertanian seperti kayu manis, vanili, cengkih, dan kemiri.
Itulah sebabnya masih banyak di antara warga desa Dulamayo menggantungkan penghidupannya dari aktivitas bercocok tanam.
Seperti pantauan Tribun Manado belum lama ini. Ratusan pohon kayu manis warga berjejer mulai dari jalan masuk menuju desa sampai mendekati kawasan hutan pinus di ketinggian 700 meter, yang merupakan kawasan yang dilindungi.
Bukan hanya kayu manis, tetapi terlihat juga ratusan tanaman cengkih, kemiri, termasuk tanaman vanili juga menghiasi pemandangan di sepanjang perjalanan menuju desa ini.
Meskipun menjadi daerah penyumbang PAD dari sektor pertanian, ternyata sejumlah masalah masih dihadapi warga desa Dulamayo Barat.
Nety Antarani misalnya. Warga desa Dulamayo Barat ini masih mengeluhkan ketiadaan jalan yang memadai untuk mendisitribusikan hasil panen kayu manis miliknya.
Nety yang kesehariannya berprofesi sebagai petani Kayu Manis dan Kemiri mengaku harus merogoh uang cukup besar menyewa motor untuk mengangkut hasil pertanian miliknya.
"Jalan disini kecil, menanjak dan belum ada pengerasan. Sulit sekali kalau harus pikul hasil panen ke pasar yang jaraknya sangat jauh. Makanya harus sewa motor pengangkut yang sekali jalan harus bayar 25 ribu rupiah," keluh Nety.
Sepeninggal suaminya yang meninggal karena sakit sekitar lima tahun lalu membuat Nety harus berjuang sendiri mengelola tanaman kayu manis dan kemiri miliknya untuk menghidupi dirinya dan kedua anaknya.
Keterbatasan tenaga yang dimilikinya membuat Nety harus merelakan banyak pohon kayu manis miliknya harus mati percuma karena minim perawatan.
"Sekarang banyak pohon kayu manis yang saya biarkan mati percuma karena memang kesulitan untuk perawatannya," terang Nety.
Meskipun demikian, Nety mengaku tetap bersyukur dengan puluhan pohon kayu manis yang masih bisa dikelolanya saat ini, sekalipun harga per kilogram untuk kayu manis kering saat ini hanya berkisar 6 ribu rupiah saja.
"Yah cukuplah untuk biaya hidup setiap hari dan biaya sekolah anak. Bersyukur tiap tahun selalu ada hasil panen," ungkapnya.
Nety mengaku untuk kayu manis sekali panen bisa dapat sampai 100 kilogram kayu manis kering. Sedangkan untuk kemiri, sekali panen bisa mencapai 30 kilogram kemiri kupas.
"Untuk kemiri saat ini masih ada 50 pohon yang tersisa. Dan harga per kilonya jika bagus bisa sampai 25 ribu rupiah, kalau rendah hanya sampai 7 ribu rupiah saja per kilogram," jelas Nety.