Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tawuran

Saling Lempar Batu di Sabtu Malam

Belum reda pertikaian antara Kelurahan Imandi dan Desa Tonom, beberapa desa di daerah Dumoga kembali terlibat kericuhan

Penulis: |
Laporan Wartawan Tribun Manado Edi Sukasah

TRIBUNMANADO.CO.ID, BOLMONG - Belum reda pertikaian antara Kelurahan Imandi dan Desa Tonom, beberapa desa di daerah Dumoga kembali terlibat kericuhan, Sabtu (5/5/2012) malam. Kali ini sekelompok warga dari Desa Tonom dan Ibolian saling lempar batu. Kejadian serupa di malam yang sama terjadi antara Desa Toruakat dan Bombanon.

Camat Dumoga Timur Yohanis Lomban menuturkan, kejadian saling lempar batu antara Desa Tonom dan Ibolian terjadi karena kesalahpahaman. "Ada informasi beredar di Tonom, warga Ibolian mau masuk ke desa tersebut. Padahal, sebenarnya tidak demikian," kata Yohanis, Minggu (6/5/2012).

Informasi yang dihimpun dari aparat keamanan, kejadian bermula saat seorang pelajar asal Desa Tonom terjatuh di Desa Ibolian sekitar pukul 7.00 wita. Korban kemudian di bawa ke dokter oleh warga yang melihat kejadian tersebut.

Kejadian serupa juga dialami oleh seorang siswi lainya. Namun kali ini kejadianya sekitar pukul 17.30 wita. Ia pulang sekolah dari arah Ibolian menuju Tonom menggunakan sepeda motor. Siswi tersebut terjatuh di Ibolian. Setelah pulang dia pun menceritakan kejadian tersebut kepada orangtuanya.

Namun entah kenapa tiba-tiba ada isu merebak jika ada anak gadis dari Desa Tonom dilempari oleh orang tak dikenal. Hingga menyebabkan luka dibagian tangan dan dada. "Entah siapa yang membuat keadaan tersebut," ujar Yohanis.

Malam harinya, sekitar pukul 21.30 wita, di perbatasan antara dua desa tersebut terjadi saling lempar batu. Akibat kejadian tersebut, Ebi Mamonto (25), warga Ibolian, terkena senapan angin di bagian dada sebelah kiri. Dia pun harus menjalani perawatan di RS Datoe Binangkang.

Kejadian lainnya adalah  antara warga Toruakat dan Bombanon. Menurut seorang warga Bombanon, saling lempar batu berawal dari persoalan remaja. Malam itu, tiga remaja Toruakat datang ke Bombanon untuk acara pacaran. Para remaja tersebut bolak balik di lorong lapangan sekitar pukul 21.45 wita.

Seorang warga Bombanon yang melihat gerak-gerik remaja tersebut melaporkan kepada Sekretaris Desa Bomobanon Hart Tikonuwu. Sang Sekdes pun mendatangi tiga remaja tersebut dan menanyakan maksud kedatangan para mereka.

Hart membawa seorang di antaranya ke Balai Desa. Sementara teman-temanya kembali ke Toruakat. Rupanya, para remaja yang pulang ke desanya tersebut memanggil teman-temanya. Sampai akhirnya terjadi saling lempar di jembatan gantung di perbatasan dua desa tersebut.

"Beruntung ada anggota Polsek Dumoga yang tugas di Perbatasan Toruakat-Pusian sedang lewat sehingga ke dua kubu berhenti menyerang," ujar warga Bombanon yang enggan disebut namanya ini saat di temui Tribun Manado di rumahnya.

Sekitar 20 menit setelah kejadian aparat keamanan dari Polri dan TNI tiba di TKP. Sangadi dari dua desa tersebut pun bertemu. Kejadian lebih besar lagi pun dapat diredam. (suk)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved