Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Investasi

Investor Jerman Tertarik Kembangkan Jarak Pagar

PT. Jatro AG sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman, tertarik untuk berinvestasi tanaman jarak pagar di Provinsi Gorontalo.

Penulis: Fransiska_Noel | Editor:
zoom-inlihat foto Investor Jerman Tertarik Kembangkan Jarak Pagar
TRIBUNGORONTALO/FRANSISKA NOEL
tim dari Jatro AG bersama Pengurus Pusat Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO) di hadapan Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Prof. DR. Hj. Winarni Monoarfa, MS dan pimpinan SKPD terkait, yang berlangsung di ruang Oval kantor Gubernur Gorontalo, Senin (30/4/2012).
Laporan Wartawan Tribun Gorontalo Fransiska Noel

TRIBUNMANADO.CO.ID, GORONTALO - PT. Jatro AG sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman, tertarik untuk berinvestasi tanaman jarak pagar di Provinsi Gorontalo.

Hal ini terungkap pada saat pemaparan yang dilakukan oleh tim dari Jatro AG bersama Pengurus Pusat Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO) di hadapan Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Prof. DR. Hj. Winarni Monoarfa, MS dan pimpinan SKPD terkait, yang berlangsung di ruang Oval kantor Gubernur Gorontalo, Senin (30/4/2012).

Sekda Winarni Monoarfa mengatakan, Pemerintah Provinsi Gorontalo sangat antusias dan menyambut baik rencana dari PT. Jatro AG dan GAPPERINDO karena hal ini sesuai dengan program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo untuk meningkatkan ekonomi rakyat.

Namun menurutnya ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dicarikan solusi bersama mengingat tanaman jarak pagar ini sudah pernah dikembangkan di Gorontalo beberapa tahun lalu.

"Tahun 2006 sampai 2011 kita mempunyai luas pengembangan tanaman jarak pagar kurang lebih 1200 Ha, tetapi setelah dievaluasi pada akhir tahun 2011 tersisa tinggal 46 Ha," ujar Monoarfa.

Menurutnya, penyebab kondisi ini adalah minat petani yang tinggi tetapi tetapi tidak ditunjang harga jual. "Harga jual belum maksimal dimana harga pasar saat ini masih sangat rendah hanya berkisar antara 500 rupiah sampai  750 rupiah per kilogram, dan inilah yang harus kita carikan solusi bersama," ujar Monoarfa.

Dirinya menambahkan kondisi ini sesuai dengan data yang diberikan Dinas Perkebunan Provinsi Gorontalo, dimana ada beberapa permasalahan yang dihadapi saat ini antara lain tidak adanya kepastian pasar biji jarak, tingkat harga yang ditawarkan investor sangat rendah hanya 500 rupiah per kilogram, sementara disisi lain petani menawarkan minimal 1.500 rupiah per kilogram, serta produktivitas yang dihasilkan masih rendah sekitar 450 kilogram per hektar.

Menanggapi hal tersebut, DR. Webber dari pihak Jatro AG mengatakan  akan berusaha mencari solusi untuk masalah-masalah tersebut. Salah satunya dengan menerapkan model pengembangan tanaman jarak pagar yang bermitra dengan petani.

"Pihak Jatro tidak hanya akan mengirimkan tanaman jantropha saja, tetapi juga logistik, termasuk mesin pengolah biji jarak. Selain itu Petani juga akan mendapat bantuan benih untuk tumpangsari disesuaikan dengan kondisi wilayah daerah setempat seperti jagung yang cocok di wilayah Gorontalo. Jadi sembari menunggu jantropha berbuah, hasil dari tumpangsari bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan petani," tutur Webber.

Webber berharap upaya ini  bisa menumbuhkan kembali minat dari petani untuk menanam jarak pagar.

"Selama bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani, Pemerintah sangat mendukung. Kami minta, pola yang harus dilaksanakan adalah PIR, perkebunan intinya adalah investor dan plasmanya adalah masyarakat, termasuk industrinya juga bisa ada di Gorontalo," pungkas Sekda Winarni Monoarfa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved