Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bencana Alam

Talud Setinggi Empat Meter Ambrol

Beruntung saat itu, cucu saya Jessi (3) dan Efraim (6) berada di tengah rumah

Penulis: |
Laporan Wartawan  Tribun Manado Edi Sukasah

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Hujan keras yang mengguyur Kotamobagu hampir dalam dua hari terakhir membuat talud setinggi empat meter di Pemukiman Osion, Kelurahan Kotobangon, ambruk, Minggu (22/4/2012) sekitar pukul 19.05 wita.

Sebuah kamar di rumah milik Keluarga Waani-Langi pun rusak berat tertimpa material talud dan tanah. Donnie Waani (44) mengatakan, kejadian tersebut sangat tiba-tiba. Suara tumbukan antara longsoran dan tembok terdengar jelas oleh lima anggota keluarga Waani yang saat itu sedang menonton televisi di tengah rumah.

"Beruntung saat itu, cucu saya Jessi (3) dan Efraim (6) berada di tengah rumah. Biasanya mereka bersama ibunya Inga (28) berada di kamar sedang tidur-toduran," kata Lin Langi, istri Donnie Waani (54).

Keluarganya pun kaget bukan kepalang. Inga yang sedang hamil tujuh bulan pun tergopoh- gopoh keluar rumah. Donnie mengaku masih ada rasa was-was untuk tidur di rumahnya setelah kejadian tersebut.

"Masih ragu mau tidur dimana. Retakan di tembok sudah berada sampai kamar mandi," kata dia seraya menunjukkan kamar mandi yang berada di dekat kamar,

Donnie menambahakn, runtuhnya talud tersebut sebenatnya tinggal menunggu waktu saja. Beberapa bulan setelah dibangun pada tahun 2009-2010, talud sepanjang 25 meter tersebut sudah mulai retak-retak. Dia mengaku sudah melaporkan hal tersebut kepada pemerintah setempat.

Namun tidak ada respon positif dari pemerintah. Pada April April 2011, dia melaporkan lagi retakan talud yang jaraknya hanya sekitar satu meter saja dari rumahnya.

"Sudah ada yang datang mengukur-ukur, namun setelah itu tidak ada lagi perkembangan," tambah Donnie.

Sampai akhirnya, talud yang baru berumur kurang dari tiga tahun itu pun ambrol sekitar sepanjang delapan meter.

Bahkan, retak-retak di bagian-bagian lainya pun sudah terlihat. Warga di Pemukiman Osion pun melarang anak-anaknya bermain di sekitar talud tersebut karena berbahaya.
Beberapa tetangga Donnie tampak kesal melihat kejadian tersebut.

"Talud ini dibuat tak sesuai dengan ketentuan. Kemiringanya tak diaturm. Jadilah seperti ini hasilnya," kata seorang pemuda berambut panjang tampak kesal.

Donnie mengaku pasrah dengan keadaan tersebut. Namun demikian, dia mengharapakan pemerintah daerah bisa memperhatikan keadaan tersebut.

"Harus ada pembenanhan. Kalau keinginanya tentu saja ada ganti rugi sesuai dengan kerukan yang dialami," kata lelaki yang mengaku bekerja serabutan ini.   

Hujan keras guyur Kotamobagu, sejak Sabtu (21/4/2012). Awan hitam mulai menutupi langit kota tersebut sejak siang hari. Gerimis pun mulai turun sejak sekitar pukul 12.30 siang. Namun selepas magrib, larikan air yang jatuh dari langit semakin kerap dan keras. Suaranya bergemuruh. Bahkan, sesekali kilatan petir dan gelegar guntur terdengar memekakan telinga.

Hujan reda pada sekitar pukul 24.00 wita. Namun keesokan harinya, Minggu, hujan kembali mengguyur kota tersebut.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved