Bencana Alam
Tompaso Barat Dihantam Puting Beliung, Desby Lihat Seng Berterbangan
Awalnya angin selendu (puting beliung) itu muncul dari perkebunan dan bergerak menuju perkampungan.
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Delapan rumah di Desa Tonsewer dan Tonsewer Selatan, Kecamatan Tompaso Barat rusak berat dihantam angin puting beliung, Sabtu (14/4/2012).
Hukumtua Desa Tonsewer, Bernard A Pantouw saat diwawancarai Tribun Manado menjelaskan, angin yang oleh warga desa tersebut disebut angin selendu ini muncul sekitar pukul 13.30 Wita. Pusaran angin ini awalnya muncul di areal perkebunan seda mata, sekitar 300 meter sebelah timur laut desa.
Dirinya menceritakan, saat itu wilayah desa tersebut sedang diguyur hujan rintik-rintik. Dari areal perkebunan muncul angin yang berputar dan mengarah kepemukiman warga. Angin tersebut bergerak melintasi desa dan menghancurkan atap rumah.
"Angin itu menghantam satu rumah dipinggiran desa dan bergerak ke rumah lainnya. Angin berhenti diujung selatan desa," ujarnya.
Dirinya menjelaskan, setelah kejadian tersebut dia dan aparat desa langsung memeriksa semua wilayah desa untuk melihat kerusakan yang terjadi. Delapan rumah mengalami rusak berat dan sembilan rumah lainnya rusak ringan. Pada rumah yang rusak berat, hampir semua atap rumah terbang tersapu angin. Sedangkan rumah yang rusak ringan hanya ada beberapa seng yang terbang terbawa angin sampai sejauh puluhan meter.
"Kejadian angin selendu ini terjadi sekitar 10 menit, namun kerusakan yang ditimbulkan cukup parah. Bahkan ada atap rumah yang terdiri dari sekitar 10 lembar seng tertiup angin sampai terbang diatas tiang listrik," ujarnya.
Desby Suoth (43), warga Desa Tonsewer Selatan saat diwawancarai Tribun Manado menceritakan, saat kejadian tersebut dia sedang berada dipekarangan rumahnya. Dari posisi tersebut dirinya melihat sebuah pusaran angin diameter sekitar 10 meter dan tinggi sekitar 20 meter menerbangkan beberapa lembar seng. Menurutnya, lembaran seng itu terangkat sampai sekitar 15 meter dan terhempas ketanah.
Menurutnya, angin puting beliung ini bergerak sangat cepat sehingga hanya dalam beberapa detik pusaran angin itu telah berjarak sekitar 20 meter dari posisinya berdiri. Angin tersebut terus bergerak kearah rumahnya.
"Awalnya saya melihat angin selendu itu menerbangkan seng, tapi tidak lama kemudian angin itu bergerak kearah saya. Saya sedikit panik tapi tidak bisa lari karena isteri dan anak saya berada dalam rumah," ujarnya.
Angin tersebut selanjutnya menghantam atap rumah Desby dan menerbangkannya sampai sekitar 10 meter dari rumah. Beruntung angin tersebut tidak menyeret dirinya yang berada dipekarangan serta isteri dan anaknya dalam rumah.
"Saya sempat panik karena anak saya mulai menangis histeris saat rumah mulai bergetar. Saya berusaha berlari kedalam rumah untuk menyelamatkan anak saya namun belum sampai didalam, angin telah menghempaskan atap rumah saya," ujarnya.
Dua pertiga atam rumah Desby habis tersapu angin puting beliung. Hanya beberapa lembar seng yang masih bertahan ditempatnya. Dirinya mengatakan akan mencoba membangun bilik kamar dibagian dapur sebagai tempat tidur sementara. Bagian depan rumah tidak bisa ditinggali karena hampir tidak ada lagi seng yang tertinggal. (luc)