Kenaikan BBM
Naik Harga Lebih Awal Itu Wajar
Tentu kenaikan harga-harga, dimungkinkan akan kembali terjadi saat pemerintah pusat meresmikan kenaikan BBM awal April nanti.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menaikan harga barang oleh pelaku pasar sebelum ada pengumuman resmi dari pemerintah pusat suatu kewajaran dalam dunia pasar. Pendapat inilah yang terlontar dari seorang pengamat ekonomi Sulut, Stenly Alexander.
Ia menjelaskan, kenaikan harga dari beberapa barang-barang sembilan bahan kebutuhan pokok yang lebih awal, reaksi spontanitas dari pelaku pasar karena mendengar akan ada rencana kenaikan barang.
Secara alamiah pedagang mendengar ada isu kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) maka, responnya ikut pula memprediksi pasar. Aksinya, pelaku pasar mempertimbangkan dan memutuskan, antara menaikan harga terlebih dahulu atau tidak. Sudah lumrah dalam dunia perdagangan.
Tentu kenaikan harga-harga, dimungkinkan akan kembali terjadi saat pemerintah pusat meresmikan kenaikan BBM awal April nanti. Diprediksi naiknya barang-barang tersebut tidak secara tajam, tidak melonjak secara drastis, namun dampak berikutnya tentu masyarakat akan dihadapkan oleh laju inflasi yang cukup tinggi.
Pengumuman wacana kenaikan harga oleh pemerintah suatu pilihan tepat, membuktikan sebagai pemerintahan yang tidak otoriter, menunjukan keterbukaan kepada masyarakat, melihat reaksi pasar atas kebijakan menaikan BBM, bagaimana perkembangannya, sebagai masukan-masukan yang berharga.
Namun, bukan berarti kenaikan harga yang dilakukan pelaku pasar pihak pemerintah membiarkan tanpa ada kontrol pasar. Harusnya, untuk menjaga kesetabilan pasar pemerintah di masing-masing daerah pun turut melakukan operasi pasar, agar tidak terjadi permainan dari para spekulan yang merugikan perekonomian masyarakat.
Pemerintah di daerah jangan hanya diam, berpangku tangan. Namun harus pula mampu turun ke lapangan melihat bagaimana harga-harga kebutuhan masyarakat. Pasar perlu di kontrol agar tidak ada kenaikan harga secara tajam yang bisa menambah beban masyarakat.
Karena itu, diharapkan bagi para konsumen dalam melihat fenomena ini tidak perlu panik. Sebab untuk apa sampai harus menampung dan menimbun banyak barang hanya karena untuk peroleh barang lebih murah. Pastinya, konsumen yang panik, tidak rasional hasilnya tidak akan menguntungkan, hanya lelah kehabisan energi karena panik dan berusahan melakukan penimbunan. Yang rugi itu nanti diri sendiri dan masyarakat lainnya. Percaya, bahwa pasokan kebutuhan yang tersedia itu terjaga, karena itu pemerintah harus perlancar distribusi dan pemantauan pasar. (bdi)