Ekonomi

Rupiah Masih di Atas 9.100

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (6/3/2012) pagi, bergerak menguat 15 poin

Rupiah Masih di Atas 9.100
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (6/3/2012) pagi, bergerak menguat 15 poin ke posisi Rp 9.115 dibanding sebelumnya Rp 9.130 per dollar AS.

"Meski diselimuti sentimen negatif, nilai tukar rupiah bergerak menguat pada pagi ini," kata analis pasar uang Treasury Telkom Sigma, Rahadyo Anggoro, di Jakarta.

Ia menjelaskan, penguatan rupiah disebabkan intervensi dari Bank Indonesia (BI) karena kuatnya sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global. "BI intervensi rupiah terhadap dollar AS agar tidak tertekan lebih dalam," katanya.
    
Meski demikian, lanjut dia, sentimen dari rencana naiknya bahan bakar minyak (BBM) akan masih menjadi pemicu tekanan bagi mata uang rupiah terhadap dollar AS pada pekan ini dikarenakan secara fundamental kenaikan itu akan menaikkan inflasi.

Selain itu, lanjut dia, diperkirakan inflasi pada tahun ini akan meningkat 2,4 persen lebih besar dari yang ditargetkan oleh pemerintah sebesar 6,5 persen. Kenaikan BBM, kata dia, juga akan diikuti oleh naiknya tarif dasar listrik (TDL). Kondisi itu menambah sentimen negatif bagi pelaku pasar uang.

Ia menambahkan, perubahan anggaran pemerintah yang disebabkan kenaikan harga minyak dunia akan menambah utang baru bagi negara sebesar Rp 40-Rp 50 triliun. Ia memprediksi, pada perdagangan Rabu (7/3/2012) nilai tukar domestik kembali melemah di kisaran Rp 9.985-9.150 per dollar AS.

Sementara analis Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih, menambahkan, ekonomi China 2012 diperkirakan tumbuh 7,5 persen. Pernyataan PM Cina Wen Jiabao itu cukup mengagetkan investor. "Di tengah risiko global yang berasal dari Yunani dan Uni Eropa (UE) mereda, pernyataan itu menjadikan risiko terhadap China semakin serius," katanya.

Sejak beberapa tahun terakhir, ia mengemukakan, banyak analis memperkirakan China akan menuju hard landing, tetapi selalu tertahan, bahkan pada 2011 lalu masih mencatat pertumbuhan sebesar 8,9 persen.

Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved