Inflasi
Rencana Kenaikan BBM Berdampak Inflasi Manado
Rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah pusat mulai terasa terhadap inflasi kota Manado.
Laporan Wartawan Tribun Manado Deffriatno Neke
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO-Rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah pusat mulai terasa terhadap inflasi kota Manado. Berdasarkan pernyataan Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) Sulawesi Utara (Sulut), Dantes Simbolon, pada bulan Fenruari 2012, Kota Manado mengalami inflasi sebesar 0,60 persen.
"Adanya kenaikan BBM yang ditunda-tunda, ada dampak psikologis dalam masyarakat. Mulai ada sedikit pengaruh dari rencana kenaikan BBM tersebut," kata Dantes dalam konferensi pers di kantornya, Kamis (1/3)
Dantes menambahkan, saat ini mulai terdapat beberapa kenaikan barang melebih dari kenaikan harga BBM yang misalnya, kenaikan BBM sebesar 5 persen, namun barang yang dijual mulai naik sebesar 15 persen. Menurutnya efek dampak kenaikan BBM tersebut akan terasa hingga dua tahun kedepan, dan setelah itu, akan kembali normal seperti biasa.
"Yang harus dilakukan pemerintah daerah dalam menjaga inflasi kedepan adalah menjaga ketersediaan barang, distribusi dan lalu lintas terjaga sehingga barang yang diminta terpenuhi, sehingga tidak ada spekaluasi bila tidak ada stok barang, barang dinaikan. Pengawasan perlu dilakukan hingga ke barang," ujarnya.
Dantes memperkirakan pada bulan Maret akan terjadi sedikit kenaikan harga, namun ia enggan memperkirakan kenaikan inflasi di bulan ini. Sementara itu, menurut data BPS, Inflasi juga terjadi akibat karena kenaikan indeks pada empat kelompok pengeluaran yakni salah satunya dari kelompok bahan makanan sebesar 1,49 persen.
"Selain bahan makanan, kenaikan indeks juga terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,25 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,33 persen, kelompok sandang 0,49 persen dan kelompok kesehatan 0,31 persen," ucap Dantes.
Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain seperti beras, cane rawit, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, daging ayam ras, daun bawang, kue basah, gula pasir, cumi-cumi, dan batu bata. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain seperti tomat sayur, apel, anggur, mujair, cabe merah, bawang putih, angutan udara, ikan lolosi, labu siam, dan daun paku.