Ekonomi

Rupiah Masih Tertekan

Mata uang rupiah terhadap dollar AS pada Jumat (24/2/2012) pagi bergerak melemah sebesar 10 poin seiring

Rupiah Masih Tertekan
KOMPAS/HERU SRI KUMORO Ilustrasi: rupiah dan dollar AS.
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mata uang rupiah terhadap dollar AS pada Jumat (24/2/2012)  pagi bergerak melemah sebesar 10 poin seiring data Amerika Serikat (AS) yang membukukan hasil positif.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Jumat pagi bergerak melemah 10 poin ke posisi Rp 9.070 dibanding sebelumnya Rp 9.060 per dollar AS. "Pasar AS menguat karena perbaikan data ketenagakerjaan, kondisi itu mendorong dollar AS menguat dan rupiah melemah," kata analis pasar uang, Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan, data pengangguran di AS minggu lalu tetap bertahan di 351 ribu, terendah dalam empat tahun terakhir ini. Membaiknya dan menguatnya pasar tenaga kerja mendorong keyakinan konsumen meningkat. "Pasar uang merespon positif perbaikan data ketenagakerjaan di AS," katanya.

Ia mengatakan, naiknya keyakinan konsumen diperkirakan juga akan tinggi. Tingkat pengangguran di AS per bulan Januari turun menjadi 8,3 persen, terendah sejak Agustus 2008. Ia menambahkan, perbaikan disisi pasar tenaga kerja dan keyakinan konsumen itu didukung oleh keputusan kongres AS yang menyetujui perpanjangan senilai 30 miliar dollar AS unemployment benefits hingga 31 Desember 2012.

Kongres AS, lanjut dia, juga menyetujui perpanjangan pemotongan pajak sebesar dua persen yang semestinya berakhir pada Februari ini. "Indikator-indikator ekonomi AS terus menunjukkan penguatan tetapi the Fed masih memompa likuiditas melalui ’operational twist’ dan mempertahankan kebijakan suku bunga rendah sampai akhir 2014 mendatang. Pasar AS merespon positif perbaikan data ketenagakerjaan di AS ini," katanya.

Analis pengamat pasar uang Monex Investindo Futures, Johanes Ginting menambahkan, rupiah cenderung bergerak terbatas terhadap dollar AS. Hal ini seiring optimisme atas kesepakatan pemberian dana talangan (bailout) Yunani yang tercapai pada hari sebelumnya bergeser menjadi kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi dan resiko penerapan program penghematan.

Ia mengatakan, nilai tukar euro juga melemah terbebani oleh data ekonomi yang menunjukkan jika ekonomi negara-negara kawasan Eropa semakin beresiko jatuh ke jurang resesi, setelah sektor jasa mengikuti jejak sektor manufaktur dengan terjatuh ke level kontraksi pada bulan ini.

Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved