Elpiji
Manado Langka Elpiji, Mutia Sambangi 9 Tempat dan 2 SPBU, Nihil !!!
Saya sudah sambangi 9 tempat dan 2 SPBU, nihil.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Mutia Baransa (33), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Komo Dalam, Manado, mengaku jengah dengan kondisi Manado yang menurutnya sudah berubah menjadi kota mati. Pasalnya sejak pagi keliling Manado untuk mencari isi ulang elpiji ukuran 3 kilogram hingga sore ia tak berhasil menemukan, Kamis (16/2/2012).
"Saya sudah sambangi 9 tempat dan 2 SPBU, nihil. Saya tak berhasil mendapatkan elpiji, baru saja mau turun bawa tabung kosong, pemilik toko lambaikan tangan sambil bilang kosong," ujarnya.
Ia mengaku bingung harus masak dengan cara apa karena ketiadaan isi ulang elpiji, bahkan saat isi bahan bakar untuk kendaraannya Mutia juga harus antre sekitar 1 jam hal tersebut juga membuatnya jengkel.
"Untung masih ada cadangan gas di rumah, bertahan untuk beberapa hari jadi saya mesti cari sampai dapat," jelasnya. Beberapa saran temannya di lokasi yang sekiranya masih ada isi ulang elpiji telah ia sambangi dan kosong. Akhirnya Mutia pulang dengan tangan hampa.
Hal senada dirasakan oleh Candra (42) pengelola Family Laundry, kepada Tribun Manado ia mengaku tak bisa menjanjikan berikan hasil cucian ekspres karena ketiadaan elpiji. "Bagi pelanggan yang minta cucian ekspres (cepat) saya tak bisa, saya menggunakan oven dengan gas, seharian saya cari-cari gas keliling Manado hingga saat ini belum dapat," jelasnya.
Ketiadaan gas tersebut telah menghambat usaha laundrynya, bahkan ada pelanggan yang mengirimkan 50 potong pakaian namun bisa kering 25 potong. Ia berharap kelangkaan gas bisa segera diantisipasi.
Eti (50) warga Politeknik Manado juga merasakan hal sama, ia kesulitan menemukan isi ulang elpiji. Bila hal ini berlanjut Eti mengaku akan beralih ke minyak tanah. "Saya sudah siapkan kompor minyak tanah untuk berjaga-jaga bila gas tidak ada saya kembali gunakan minyak tanah," ujarnya.
Eti yang juga memiliki usaha nasi kuning mengaku kesulitan dengan kelangkaan elpiji, ia terancam tak bisa menjual nasi kuning karena ketiadaan gas.
Dampak Masalah Fasilitas Pengisian Seminggu Lalu
Menanggapi hal tersebut, Isfahani, Sales Area Manager LPG dan Gas Produk Sulawesi Bagian Utara menolak istilah kelangkaaan untuk isi ulang elpiji. "Disebut langka tidak, karena hari ini kita sudah pastikan pengisian baru, kita maksimal jalur-jalur distribusi agen," ujarnya.
Ia menilai apa yang dialami masyarakat merupakan imbas beberapa waktu lalu. Menurutnya ada kendala produksi sekitar seminggu, yaitu ada fasilitas operasi yang mati, namun sekarang sudah bisa diatasi. " Saat ini kita berproduksi 350 ton elpiji dan sudah masuk Bitung kemarin (Rabu, 15/2) mungkin distribusi akan makin baik," katanya.
Selain itu ia menerangkan, sekarang sudah ada tambahan 3 agen pengisian elpiji yang ada di Bitung, Liwas dan Matungkas. "Saya yakin saat ini sudah normal, dan harga di agen tiap tabung isi 3 kilogram Rp 12.750, sementara untuk harga eceran tertinggi (HET) di tingkat pengecer masih akan ditetapkan atau diatur oleh pemerintah daerah," tegasnya. (rob)