Selasa, 9 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Elpiji

Elpiji Mahal dan Sulit Dicari di Manado

Sudah dua pekan terakhir ini kami belum dapat kiriman elpiji.

Tayang:
Penulis: | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Susanto Amisan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sulitnya mendapatkan gas elpiji dan Minyak Tanah (Mitan) di pasaran akhir-akhir ini, nampaknya membuat warga Sulawesi Utara kebanyakan dan Kota Manado pada khususnya panik dan kuatir dengan kondisi tersebut. Pasalnya untuk mendapatkan gas buat memasak makanan saja sulitnya bukan main. Bahkan ada warga yang hampir sudah keliling semua pelosok Kota Manado untuk mencari gas tidak dapat, Kamis (16/2/2012).

Hasil Pantauan Tribun Manado di sejumlah pangkalan yang ada di Kota Manado, tampak ada puluhan tabung gas tersusun rapi di depan sejumlah toko dan kantor sentral pengisian bahan bakar umum (SPBU), namun kosong karena belum mendapat dari agen penyalur. Bahkan ada yang hampir dua pekan terakhir ini belum dapat, sehingga warga yang ada di daerah sekitar SPBU Simpang Tiga Kairagi pun harus bolak-balik menanyakan ke pihak SPBU.

"Sudah dua pekan terakhir ini kami belum dapat kiriman elpiji. Akibatnya warga selalu bolak-balik nanya apakah elpiji sudah masuk," ujar Roy. Menurut Roy pihaknya biasanya mendapat gas elpiji berubsidi yang ukurang 3 kg dari Agen Sinar Bukit Bahari, dengan harga Rp 12.750. Selanjutnya elpiji tersebut dijual dengan harga yang diperbolehkan oleh agen yakni 15 ribu rupiah dan tidak lebih.

Hal yang sama turut diutarakan Anton, petugas di SPBU Paal Dua. Menurut Anton, pihaknya biasany dapat gas elpiji dari Agen Sinar Bukit Bahari. Namun seperti yang diutarakannya bahwa gas yang masuk kebanyakan tak cukup satu hari langsung habis dibeli oleh warga. "Kalau gas masuk, itu nda mo sampe satu hari langsung abis," ujarnya. Dicontohkannya, bahwa pada Rabu (15/2) pihaknya dapat elpiji, tak sampai sore elpiji habis dibeli warga. Menurutnya selama ini mereka menjual elpiji ukuran 3 kg dengan harga 15 ribu rupiah sedangkan yang ukuran 12 kg harganya 145 ribu rupiah.

Lain lagi dengan seorang pemilik warung yang terletak di Kelurahan Malalayang yang namanya tak mau dipublikasikan mengaku terpaksa menjual gas elpiji 3 kg seharga 20 ribu rupiah karena ia membelinya dari pangkalan seharga 15 ribu rupiah. "Saya harus jual 20 ribu, soalnya saya beli di pangkalan harganya 15 ribu rupiah," katanya.

Menanggapi kondisi demikian, Lely seorang warga Jl 17 Agustus, mengaku panik dengan langkanya elpiji di Kota Manado. Bahkan ia sudah keliling Kota namun tak juga dapat, karena secara keseluruhan pangkalan dan toko maupun warung mengalami kekosongan stok. "Saya sudah keliling dari Malalayang hingga Tuminting, Mapanget dan Winangun tapi tidak dapat elpiji karena semuanya mengaku kosong," tuturnya.

Ia pun mempertanyakan kebijakan konversi mitan ke gas yang dinilainya tidak beres karena ternyata tidak siap memenuhi kebutuhan warga. "Harusnya kalau belum siap jangan bikin konversi donk, kayak gini rakyat yang jadi korban," tandasnya. Ditambahkannya bahwa banyak masyarakat panik dengan kondisi kelangkaan gas ini. alsannya banya warga jadi bingung, mau cari gas karena anjuran kebijakan konversi ternyata sulit. Mau cari mitan pun lebih sulit. Kembali ke kayu bakar, tidak ada tempat untuk itu.

Sama halnya diutarakan oleh Serly, warga Tuminting yang mengaku sangat menyayangkan atas sikap kurang proaktif pemerintah dalam menyikapi kondisi yang demikian. Baginya, pemerintah saat ini kurang memikirkan permasalahan yang dialami rakyat. Karena menurutnya berdasarkan fakta yang ada pemerintah hanya sibuk berpikir mengejar opini WTP dan sejumlah predikat lainnya yang padahal secara substansial tidak berimplikasi langsung bagi rakyat. "Disaat rakyat berteriak soal kelangkaan gas dan mitan, pemerintah terkesan kurang peduli, sehingga kondisi tersebut bisa berlangsung berbulan- bulan sejak bulan Desember," ujarnya. (tos)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved