Nelayan Hilang
Terapung Semalaman, Adios Berenang 9 Jam
BAGI Adios kejadian pada Minggu (29/1) malam, tak dapat dilupakan.
Peristiwa kapal ikan terbalik yang berakibat sempat hilangnya tujuh nelayan Belang di Laut Maluku tak akan pernah dilupakan Adios Gampu (28), satu di antara para korban.
BAGI Adios kejadian pada Minggu (29/1) malam, tak dapat dilupakan. Sapuan ombak terbesar yang pernah dilihat selama di laut masih terus menghantuinya.
Sapuan ombak langsung membalikkan kapal motor mereka dan membuat mereka berkali‑kali harus menelan air garam tersebut. Adios harus terendam di air laut selama sehari semalam. Kesabarannya masih harus diuji karena tak kurang dari sembilan jam dia berenang ke rakit yang posisinya baru terlihat setelah matahari terbit.
"Kalau terlambat limat menit mungkin sudah tak bisa bercerita seperti sekarang, melihat anak istri dan bertemu dengan sanak keluarga," ujar Adios ditemani istri dan anak di kediamannya, Rabu dua hari lalu.
Ia mengaku baru pertama kali melihat ombak setinggi gunung. Nelayan ini langsung menenangkan diri dan berpikir untuk memegang apa saja yang bisa membuatnya terapung.
"Kalau kami orang laut selalu berprinsip kalau tersapu ombak tak boleh panik, waktu kapal terbalik, saya lihat galon dan mengikatkan tubuh di situ," ujarnya.
Adios tak sendiri, rekan satu kapalnya juga selamat dan selalu bersama sejak pergi melaut pada Sabtu dini hari, pekan lalu.
"Rekan saya sudah setahun bersama jadi sama‑sama menyelamatkan diri sudah kompak, kami bersyukur masih bisa bertemu keluarga," ujarnya.
Lain Adios, lain pula Arman Lamani, nelayan yang berangkat Minggu subuh itu tak harus menunggu semalaman dan berenang sembilan jam seperti Adios dan rekannya. Namun Arman cepat tertolong nelayan lainnya. "Saat kami tenggelam ada nelayan di rakit yang melihat kami, jadi walau menahan haus selama beberapa jam, dan mengajari rekan saya itu, kami akhirnya sampai ke darat," ujar Arman.
Arman dan Adios mengaku mengalami kerugian masing‑masing puluhan juta rupiah dan konsekuensi tak melaut selama beberapa bulan. Adios mengaku tak melaut dua bulan dan Arman tak melaut lima bulan.
"Kapal saya saja sebelumnya parkir dua minggu karena menunggu cat kering, ini langsung tersapu ombak, memang harus banyak bersabar dulu tapi kami tetap bersyukur," kata Adios yang pada Jumat 3 Februari ini genap 28 tahun.
Para nelayan di Desa Borgo mengaku belum mendapatkan bantuan apapun. "Kami juga bersyukur Kumtua sangat aktif dan terus memantau keberadaan termasuk mengusahakan solusi dari para pemilik kapal atau bos," ujar keduanya.
Fadly Pelangow, Kumtua Borgo Satu mengaku baru saja memasukkan proposal bantuan ke Pemkab Mitra agar puluhan nelayan yang berdomisili di Borgo Satu bisa mendapatkan bantuan.
"Saya sudah merinci kerugian dari masing‑masing nelayan dan berharap agar bupati melalui dinas terkait bisa memberikan bantuan," ujarnya. (quin simataw)