Pembunuhan

Ayah Winzy Minta Anaknya Bertanggung Jawab telah Membunuh Lindy

Dia tak pernah menyangka Winzy bisa melakukan tindakan kejam terhadap PNS Dinas Pariwisata Minahasa Selatan itu.

Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus


TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG
‑ Win Warouw, ayah dari Winzy Warouw, tersangka pembunuhan dan perkosaan terhadap Lindy Melissa Pandoh, hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Dia tak pernah menyangka Winzy bisa melakukan tindakan kejam terhadap PNS Dinas Pariwisata Minahasa Selatan itu.  

Meski mengaku menyayangi Winzy sebagai anak laki‑laki satu‑satunya, namun ia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh honorer Satuan Polisi Pamong Praja Minahasa Selatan tersebut.

"Winzy harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya. Dia sudah menikah, dan punya keluarga sendiri. Jadi sudah bukan tanggungan kami lagi. Namun kami sebagai orangtua tetap ada beban," ujar Win kala ditemui Tribun Manado, Kamis (26/1) di rumahnya.

Ia mengaku heran mengapa anaknya itu bisa melakukan perbuatan mengerikan seperti itu. "Dia hanya nakal sama orangtua, tapi kalau di luar dia baik sama orang. Tapi tak tahu kenapa sampai dia berbuat begitu," ucapnya lirih.

Win pun membuka cerita sedikit tentang Lindy. Sebenarnya, korban masih memiliki hubungan darah dengan Win. "Lindy itu masih sepupu saya, karena ayahya masih cucu bersaudara dengan saya. Begitu juga dengan pacar Lindy," katanya.

Sementara terkait perusakan rumahnya oleh orang tak dikenal pada Sabtu (21/1) lalu, dia memutuskan untuk meninggalkan Desa Kinalewiran, Kecamatan Tompaso Baru, Minahasa Selatan.

"Apa saja yang terjadi biar Tuhan yang tahu. Kami tidak akan tuntut kerusakan rumah. Biar saja, karena kalaupun kami menuntut, rumah kami tidak akan kembali. Jadi sudahlah, kami ikhlaskan saja. Mereka itu semua saudara kami," ucap Win.

Setelah dilempari, rumah tersebut esoknya dibongkar oleh keluarga untuk dipindahkan, namun mendapat penolakan dari warga saat akan dikeluarkan dari desa.
Ia menceritakan, saat kejadian pelemparan, dirinya hanya bersama sang istri di dalam rumah."Istri langsung lari ke belakang, dan saya lompat dari jendela," ujarnya. Dirinya kemudian memilih menyingkir ke Amurang.

Sejak kejadian pelemparan tersebut, Win dan istrinya yang tinggal di Kinalewiran sejak 1947, memilih untuk menyingkir selamanya. "Saya tidak akan tinggal di Kinalewiran lagi. Tanah di sana kami akan jual, dan kami akan tinggal di sini (Amurang)," ucapnya. Sementara ini, dirinya tinggal di rumah saudaranya di Amurang.

Seperti diwartakan, mayat Lindy ditemukan di dalam mobil Toyota Avanza dalam kondisi mengenaskan dan tanpa busana pada Jumat (20/1) di pelataran parkir Pantai Malalayang, Manado. Dan saat itu, Winzy yang berada dalam mobil itu mengaku Lindy merupakan korban pembunuhan orang tak dikenal. (amg)

Penulis: Alpen_Martinus
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved