Opini

Inflasi Tinggi Mengintai di 2012

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga secara umum. Ini merupakan suatu kondisi lumrah dalam perekonomian.

Oleh: DR. Agus Tony Poputra

Chief Economist BNI WMO/Dosen F.E.Unsrat

Inflasi didefinisikan sebagai kenaikan harga secara umum. Ini merupakan suatu kondisi lumrah dalam perekonomian. Dalam tataran teoritis dan praktik, inflasi dapat disebabkan oleh dua hal: (1) kenaikan permintaan melebihi penawaran atau disebut excess demand; dan (2) kenaikan biaya atau yang disebut cost push inflation. Bila inflasi disebabkan oleh kenaikan permintaan, maka dampak merugikan dari inflasi tersebut bagi masyarakat bersifat lunak karena dapat diserap oleh peningkatan pendapatan masyarakat walaupun sedikit mengganggu anggota masyarakat yang berpendapatan tetap seperti pegawai.

Sebaliknya, dampak inflasi menjadi keras apabila inflasi terjadi karena kenaikan biaya saat perekonomian tidak tumbuh atau tumbuh sangat rendah karena saat harga barang dan jasa naik tinggi, pendapatan masyarakat tidak bertambah atau bertambah jauh di bawah tingkat inflasi. Kondisi ini disebut stagnasi-infasi (stagflasi).

Penyebab kenaikan biaya yang mendorong inflasi umumnya terjadi karena kenaikan biaya energi. Kenaikan biaya energi akan mendorong kenaikan biaya-biaya yang lain atau disebut efek bola salju (snowball effect) yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa. Kemungkinan inflasi 2012 sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM dan listrik. Diperkirakan hingga akhir 2011 ini, beban anggaran subsidi energi telah membengkak sebesar Rp 54,7 triliun sehingga secara total subsidi BBM menjadi Rp 168 triliun dan listrik sebesar Rp 91 triliun. Pembengkakan subsidi energi diperparah oleh kerugian di sektor riil karena pemanfaatan kendaraan sebagai sarana transportasi tidak optimal sebagai akibat antrian panjang di SPBU serta kemacetan yang ditimbulkan. Untuk menekan subsidi energi salah satu kebijakan yang akan diambil pemerintah  di tahun 2012 adalah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 10%. Di sisi lain, kenaikan harga BBM subsidi belum dijadikan opsi kenaikan di tahun depan

Dalam mempertahankan harga BBM subsidi di 2012, pemerintah akan menghadapi beberapa situasi diantaranya: pertama, jika harga BBM dunia meningkat, maka pemerintah harus menambah anggaran subsidi BBM. Permasalahan yang timbul dari penambahan anggaran subsidi yaitu pengurangan anggaran untuk bidang lain dan timbul resistensi dari kalangan dewan terkait penambahan subsidi. Langkah lain yang dapat ditempuh pemerintah adalah pengurangan kuota BBM subsidi. Apabila ini dilakukan, maka perekonomian Indonesia akan terjerat oleh kelangkaan BBM di mana-mana; kedua,  jika harga rata-rata minyak dunia sama seperti 2010 atau turun tipis, maka pemerintah dapat mempertahankan harga BBM yang sama dengan kuota yang sama pula seperti 2011.

Namun, mengingat kemungkinan bertambahnya jumlah kendaraan dan aktivitas ekonomi secara signifikan di tahun 2012, maka kelangkaan BBM subsidi akan menjadi lebih parah dibanding 2011; dan ketiga, bila harga minyak dunia turun tajam (situasi yang diharapkan), maka pemerintah aman untuk mempertahankan harga BBM subsidi dan memperbesar kuota tanpa memperbesar anggaran subsidi.

Salah satu kebijakan yang perlu dibuat pemerintah untuk mengurangi atau mempertahankan jumlah subisidi BBM adalah pengalihan secara radikal dari minyak tanah ke elpiji walaupun kebijakan tersebut di 2011  belum memberikan  kontribusi sangat signifikan dalam menekan subsidi BBM. Kebijakan lain yang perlu secepatnya dilakukan pemerintah adalah pengaturan BBM subsidi hanya untuk  kendaraan umum walaupun kebijakan ini bukan tanpa risiko. Risiko yang dapat timbul di antaranya: (1) demo dari kelompok-kelompok masyarakat yang dapat dipolitisir oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu menjelang Pemilu 2014 sehingga eskalasinya dapat mengganggu stabilitas keamanan; (2) meningkatnya penyalahgunaan BBM subsidi karena perbedaan harga subsidi dan non subsidi (disparitas harga) serta meningkatnya permintaan BBM subsidi di pasar gelap oleh mereka yang tidak diizinkan lagi menggunakan BBM subsidi; (3) pendapatan kelas menengah bawah yang baru merasakan memiliki kendaraan akan tergerogoti oleh harga BBM yang non subsidi ; dan (4) inflasi tinggi tetap terjadi walaupun tidak setinggi bila harga BBM subsidi dinaikan.

Mengingat apapun kebijakan yang dilakukan pemerintah terkait dengan BBM di 2012, kemungkinan inflasi tinggi tetap membayangi. Umumnya pada kondisi inflasi meningkat,  Bank Indonesia akan menaikan BI rate sehingga diperkirakan suku bunga kredit perbankan bisa mengalami peningkatan atau tetap bertahan di posisi 2011.

Menghadapi situasi ini dibutuhkan peran pemerintah untuk memperlancar distribusi barang berupa peningkatan infrastruktur perhubungan, mengurangi birokrasi yang berbiaya tinggi, serta meminimalkan titik-titik pungli yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Di sisi lain, kalangan dunia usaha perlu memperkuat modal kerja dan meningkatkan efisiensi pemakaian BBM dan biaya lainnya sehingga. Untuk masyarakat secara umum, saatnya untuk mengurangi konsumsi berlebihan, sisihkan untuk tabungan yang dapat menjadi modal untuk investasi.

Dengan demikian, dampak kenaikan harga karena kebijakan energi dapat ditekan sehingga dapat mencegah inflasi yang berlebihan. (def)

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved