Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kepolisian

Kapolres Minut Harus Selidiki Pembangunan Jalan Raya

Warga Kecamatan Likupang Timur dan Likupang Barat mengeluhkan pembangunan jalan raya dari Desa Paslaten ke Desa Likupang Dua.

Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan wartawan Tribun Manado, Yudith Rondonuwu

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO- Warga Kecamatan Likupang Timur dan Likupang Barat mengeluhkan pembangunan jalan raya dari Desa Paslaten ke Desa Likupang Dua. Selain lamban proses penyelesaian, pengaspalan diduga tidak sesuai spesifikasi.

Proyek pembangunan jalan raya bernilai hampir 1 miliar ini, pada papan pengumuman tertera waktu penyelesaian 3 bulan. Namun faktanya sudah sejak Juli atau sekira 4 bulan proyek ini belum selesai. Bukan itu saja, baru diaspal ada bagian jangan yang bergelombang bahkan berlubang dan bisa menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas.

"Proyek selesai kalau alasan karena gampa bumi atau lainnya masuk akal. Tapi kami melihat sendiri, proyek ini sehari kerja, besoknya berhenti dan kelihatan tidak serius. Kami menduga banyak kecurangan di proyek ini. Mohon Pak Kapolres atau pihak Kejaksaan untuk telusuri karena kelihatan jelas pembangunan jalan tidak sesuai spesifikasi seharusnya dan bisa menyebabkan banyak kerugian kepada masyarakat," ungkap Leo Todar tokoh masyarakat Likupang.

Leo mengaku geram dengan sikap kontraktor pembangunan jalan raya di Likupang ini. Menurutnya pihak kontraktor hanya mengejar laba proyek tanpa memperhatikan kepentingan masyarakat. "Lihat saja,semua material di taruh di pinggir jalan. Krikil sudah di hambur 2 bulan lalu, tapi pengaspalan baru mulai sekarang. Akhirnya hancur semua pas diaspal dan jadinya jalan bergelombang dan cepat lubang-lubang ketika mobil kendaraan lewat. Apalagi jalan ini banyak dilalui kendaraan besar milik perusahaan tambang MSM," ungkap Leo.

Leo mencontohkan sistem kerja Sabtu (25/11) kemarin. Pihak kontraktor melakukan pengaspalan selesai pagi hari dan hasilnya? Aspalnya bergelombang. "Kalau pembangunan jalan seperti ini tidak sampai satu bulan pasti jalan rusak lagi. So itu Likupang selalu dibilang belum merdeka karena kontraktor yang beking jalan disini selalu kontraktor yang asal jadi," keluhnya.

Keluhan lainnya diutarakan Santi Wensen warga Likupang lainnya. "Yah, siapa sih yang nda mau kalau jalan diperbaiki. Tapi jangan terkatung-katung soalnya sering makan abu. Pasir dan batu-batu krikil sudah disebar tapi bulan berikut baru di aspal. Jelas saja torang mengeluh," ujar karyawan swasta yang berkantor di Airmadidi ini.

Ferry Lahope warga Likupang lainnya pun mengeluhkan abu dari material yang diletakkan dipinggir jalan. Apalagi bagi Ia yang sehari-hari berkendaraan sepeda motor. "Harusnya material sudah ada jangan hanya ditimbun tapi langsung diaspal supaya nyanda ada debu," katanya.(dit)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved