Lakalantas Maut
Guru Matematika Ini Meninggal Ditabrak Mobil Xenia
Budi Bayak tak menyangka sang Ayah, Felix Bayak (49), meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Budi Bayak tak menyangka sang Ayah, Felix Bayak (49), meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di simpang empat Jalan Ahmad Yani, Rabu (16/11/2011), sekitar pukul 18.30 wita. Dia mengaku tak mempunyai firasat apa-apa.
"Tidak ada tanda-tanda atau firasat apa pun. Terakhir bertemu pada malam itu, saat Papa mau ke bawah (pusat Kotamobagu)," ujar Budi saat ditemui Tribun Manado di rumah duka di Kelurahan Biga, Kamis (17/11/2011).
Dia menuturkan, malam itu Ayahnya sedang bersiap-siap latihan koor untuk perlombaan antar wilayah Gereja Katolik Kotamobagu. Namun melihat ada waktu luang sekitar satu jam sebelum latihan, guru matematika di SMP Theodorus Kotamobagu ini mengajak istrinya, Santje, membeli sesuatu di pertokoan yang berada di pusat Kotamobagu.
Memakai sepeda motor Suzuki bernopol 5537 KF, pasangan suami istri ini pun menuju di ke pertokoan yang berada di Jalan Ahmad Yani. Untung tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak. Berdasarkan keterangan kepolisian, saat melintas simpang empat Ahmad Yani, sepeda motor ditabrak kendaraan roda empat merk Daihatsu Xenia yang melaju dari arah Kotobagon menuju Gogagoman.
"Papa sempat coba dibawa ke Manado, namun di perjalanan meninggal dunia. Untuk memastikan, kami bawa ke rumah sakit yang ada di Amurang (RS Kalooran)," ujar Budi yang masih kuliah di Universitas De La Salle ini dengan mimik menahan rasa sedih. Matanya tampak berkaca-kaca.
Berbeda dengan suaminya yang mengalami luka berat hingga meninggal dunia, Santje hanya mengalami luka ringan. Saat menunggu jenazah suaminya di rumah duka, Santje tampak menahan sedih ketika menerima para pelayat.
Bukan hanya Budi yang tak menyangka ditinggal sang Ayah, teman sejawat di SMP Theodorus, Bastian merasa tak percaya. Di matanya, sebagai seorang guru matematika, almarhum dikenal sangat teliti dan tidak gegabah. Ketika berkendaraan pun tak pernah 'grasa-grusu'.
"Kemana pun, dia selalu memakai helm dan jaket. Jika berkendaraan, dia tak pernah cepat-cepat," ujar Bastian yang mengaku terakhir bertemu almarhum di pagi hari saat akan mengajar.
Di pihak kepolisian, Kepala Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bolmong, AKP Muhammad Islam Amrullah, mengatakan satu di antara kemungkinan penyebab kecelakaan adalah lampu lalu lintas di simpang empat tidak berfungsi dengan baik. Malam saat kejadian, hanya lampu peringatan berwarna kuning saja yang berfungsi.
Ditambahkan, pihaknya masih mengejar pelaku yang melarikan diri usai lakalantas. "Kami sudah mengantongi identitas pelaku yang berada di mobil xenia," tandas dia. (suk)