Inflasi
Cabe Rawit Kembali Picu Inflasi
Kelompok bahan makanan kembali menjadi pemicu utama penyebab terjadinya inflasi yang melanda Kota Manado di bulan Oktober 2011, kemarin
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kelompok bahan makanan kembali menjadi pemicu utama penyebab terjadinya
inflasi yang melanda Kota Manado di bulan Oktober 2011, kemarin. Manado mengalami inflasi sebesar 0,33 persen yang disebabkan kenaikan indeks Kelompok bahan makanan yakni 1,23 persen.
"Kenaikan indeks karena adanya kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan sebesar 1,23 persen. Kemudian kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,05 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) Sulawesi Utara, Dantes Simbolon, saat menggelar konferensi pers di kantornya, Selasa (1/11).
Selain itu, penyebab terjadinya inflasi juga karena dipengaruhi kenaikan indeks kelompok perumahan, air, listrik gas dan bahan bakar sebesar 0,13 persen, kelompok kesehatan 0,11 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,11 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks yakni kelompok sandang turun sebesar 1,18 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga turun sebesar 0,03 persen.
"Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabe rawit, tomat sayur, beras, cabe merah, malalugis, kangkung, angkutan udara, semen, gula pasir dan pasir beton. Sedangkan yang mengalami penurunan adalah bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, bobara, mujair, kacang panjang, kacang merah atau joglo, wortel dan buncis," ujarnya.
Sementara itu, laju inflasi kalender dari Oktober 2011 terhadap Desember 2010 sebesar 0,14 persen, dan inflasi dari tahun ke tahun yakni Oktober 2011 terhadap Oktober 2010 mencapai sebesar 2,29 persen. Sementara itu perbandingan antar pulau Sulawesi, inflasi tertinggi terjadi di Kota Gorontalo yakni 0,55 persen inflasi terendah di Kota Mamuju sebesar 0,08 persen.
"Dalam wilayah Sulawesi terdapat enam kota yang mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di kota Kendari yakni sebesar 2,98 persen dan terendah di Kota Palu 0,23 persen," ucap Dantes. (def)