Bencana

Warga Desa Rumbia Kebanjiran, Lobe Jadi Merasa Seperti Bebek

Warga Desa Rumbia, Kecamatan Langowan Selatan dikejutkan kejadian banjir yang menggenangi desanya, Selasa (13/9/2011) malam.

Warga Desa Rumbia Kebanjiran, Lobe Jadi Merasa Seperti Bebek
TRIBUNMANADO/LUCKY KAWENGIAN
Siswa SD Inpres Rumbia membersihkan sekolah mereka yang terkena banjir
Laporan Wartawan Tribun Manado Lucky F Kawengian


TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO
- Warga Desa Rumbia, Kecamatan Langowan Selatan dikejutkan kejadian banjir yang menggenangi desanya, Selasa (13/9/2011) malam.

Lobe Dito (32), menceritakan kejadian bajir itu mulai terjadi sekitar pukul 14.30 Wita. Saat itu, air dari sungai kecil yang membelah desa tersebut mulai dipenuhi air. Sedikit demi sedikit, air sungai mulai keluar dan menggenangi beberapa rumah di pinggir sungai. Sekitar pukul 17.00 Wita luapan air semakin meluas dan menggenangi puluhan rumah di desa tersebut.

"Genangan air terus meluas ke rumah warga lain sekitar pukul 19.00 Wita. Saat itu ketinggian air mulai mencapai setengah meter dan terus bertambah. Banjir semakin parah karena disaat bersamaan air laut telah pasang sehingga air dari sungai telah tertahan di muara sungai," ujarnya.

Untuk menghentikan tinggi genangan air yang terus bertambah, semua pria dewasa di desa tersebut diarahkan untuk mengambil cangkul untuk membuka saluran air lain dari sungai. Mereka bekerja di bawah guyuran hujan untuk mengarahkan air sungai ke pantai.

"Kami terlihat seperti bebek yang tinggal di atas air. Semua areal kampung telah tergenang air. Kami berupaya mengeluarkan banjir sehingga tidak lagi bertanya pada pemilih tanah dan langsung menggali lobang menuju pantai agar genangan air di perkampungan tidak semakin meninggi. Akhirnya kami berhasil membuat lobang sepanjang sekitar 15 meter ke pantai," ujarnya.

Terpisah, Hukumtua Rumbia, Jantje Gonta mengatakan, kejadian banjir yang terjadi saat itu adalah yang terparah dari semua kejadian banjir yang pernah terjadi di daerah tersebut. Menurutnya, ketinggian genangan air mencapai sekitar satu meter.

Gonta mengatakan, saat ketinggian air terus bertambah, dia segera menginstruksikan warga untuk mengungsi kedaerah yang aman. Perintah itu dituruti oleh warga. Wanita dan anak-anak mengungsi sementara ke daerah aman diujung perkampungan. Mereka membawa barang-barang berharga seperti kendaraan sepeda motor, televisi, dan barang-barang lainnya.

"Saat wanita dan anak-anak mengungsi, para pria berusaha membuka saluran air untuk pembuangan air dari sungai ke pantai. Air baru surut sekitar pukul 04.00 Wita, dan warga yang mengungsi kembali ke rumahnya masing-masing," ujarnya.

Berdasarkan pantauan Tribun Manado, suasana di Desa Rumbia telah normal. Tidak terlihat air yang masih menggenangi rumah warga. Namun warga masih sibuk membersihkan rumah mereka yang kotor karena lumpur. Bahkan 38 siswa di SD Inpres Rumbia diliburkan karena sekolah mereka kotor terendam banjir. (luc)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved