Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kekerasan

Mamesah Dianiya di Depan Pejabat

Kekisruhan ini mengakibatkan Wem Mamesah, Mantan Ketua Panitia Pilhut masuk rumah sakit RS Kalooran

Penulis: | Editor:

Laporan Wartawan Tribun Manado Edi Sukasah


TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG
- Pertemuan memediasi antara Kubu Ronny Takatawi calon hukum tua Desa Lopana yang merasa kurang puas atas hasil pilhut, berbuntut kisruh, di Kantor Camat Amurang Timur, Senin (12/9/2011).

Kekisruhan ini mengakibatkan Wem Mamesah, Mantan Ketua Panitia Pilhut masuk rumah sakit RS Kalooran akibat mendapat pukulan yang disinyalir dilakukan Ronny Takatawi dan massanya.

"Papi sekarang so tidak bisa berdiri, depe punggung masih sakit," ujar Nita Mamesah, anak Wem Mamesah, Selasa (13/6/2011).

Keluarga mereka pun langsung melaporkan hal ini ke Polres Minsel, dan polisi langsung menahan Ronny Takatawi calon kumtua Lopana Satu,  Fredy Tontohian dan Seth Pudi, yang diduga melakukan pemukulan.

Steven Mamesah, anak Wem Mamesah lainnya mengatakan, papinya saat itu diundang pertemuan di Kantor Camat, tetapi disesalkan tidak ada penjagaan sehingga ayahnya dikeroyok.

"Papi ada cerita pokok masalahnya, calon nomor tiga ada komplain dan langsung tuding papi sebut kalau calon nomor urut dua menang, padahal papi tidak pernah bilang begitu, papi bilang kalau nomor urut dua hanya memperoleh suara terbanyak," ujarnya menjelaskan.

Lanjutnya, namun papinya langsung mendapat pukulan. "Ronny langsung memukul disusul masa dia," ucapnya.

AKP Yana Supritana, Kasat Reskrim Minsel ketika dikonfirmasi mengatakan, sudah menerima laporan itu dan sementara memprosesnya.

"Kami sedang proses, dan sudah menahan tiga warga. Yakni, Ronny Takatawi, Fredy Tontohian, dan Seth Pudi," ucapnya.

Dalam pertemuan yang berlanjut kekisruhan itu dihadiri Kabag Hukum Brando Tampemawa, Camat Amurang Timur Sonny Makaenas, Sekretaris BPMPD Sammy Sendow, dan Plt Kumtua Lopana Satu Jonly Sumampow.

Sementara Camat Amurang Timur, Sonny Makaenas saat dikonfirmasi mengatakan, jika pertemuan itu adalah intern terhadap mereka yang kurang puas hasil Pilhut Lopana Satu.

Namun dirinya membantah, jika kurang pengamanan sehingga kejadian tersebut terjadi.

"Itu terjadi spontanitas, tapi kami langsung melerai. Dan Pak wem kami masukan dalam ruangan saya, sampai orang-orang bubar baru kami pulangkan Pak Wem," ucapnya.

Makaenas juga mendukung langkah Wem Mamesah melaporkan hal tersebut ke Polisi. "Kami dukung dia melapor ke pihak berwajib," ucapnya.

Sammy Sendow, Sekretaris BPMPD Minsel juga mengatakan, mereka memang pihak pengundang, sementara tempat difasilitasi camat.

"Camat memfasilitasi tempat, saat kejadian sudah kacau dan kita sudah tidak terlalu perhatikan siapa-siapa lagi," imbuhnya. (vid)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved