Antariksa
Stasiun Antariksa Mungkin Ditinggalkan
Para astronot barangkali harus meninggalkan Stasiun Antariksa Internasional (ISS) untuk sementara waktu.
Hingga ada penjelasan resmi mengenai apa yang terjadi pada roket Soyuz Rusia, dipastikan tidak akan ada pengiriman astronot menggunakan roket serupa. Padahal awak ISS yang berada di stasiun dijadwalkan pulang ke Bumi pertengahan November mendatang.
Meski begitu, para pejabat NASA mengaku punya beberapa pilihan. "Kami memiliki banyak kemungkinan," ujar manajer program stasiun antariksa NASA Mike Suffredini, Senin (29/9/2011). "Kami akan fokus pada keselamatan awak seperti yang biasanya kita lakukan."
Pilihan meninggalkan ISS, meski untuk sementara, merupakan hal yang tidak dikehendaki lima badan antariksa dunia yang telah bertahun-tahun bekerja dalam proyek tersebut. Apalagi stasiun itu telah ditinggali astronot secara bergantian sejak tahun 2000, dan rencananya akan selalu berawak hingga tahun 2020.
Menurut Suffredini, pengendali dari Bumi bisa memastikan stasiun beroperasi secara independen selama semua sistem bekerja dengan benar. Resiko yang muncul adalah tidak ada seorangpun di sana yang bisa memperbaiki bila ada peralatan yang rusak.
Enam astronot dari tiga negara saat ini menghuni kompleks stasiun yang mengorbit Bumi itu. Tiga orang direncanakan pulang bulan depan, tiga lainnya akan berada di ISS hingga pertengahan November.
Yang menjadi masalah saat ini adalah pemberangkatan aak baru yang rencananya meluncur 22 September mendatang, ditunda akibat kecelakaan roket tanpa awak pembawa 3 ton perbekalan minggu lalu. Sementara pesawat ulang alik milik NASA sudah pensiun semua. Artinya satu-satunya kendaraan ke ISS adalah Soyuz. Kapsul Soyuz diparkir di ISS untuk membawa para awak pulang ke Bumi.
Untuk menjaga agar stasiun tetap berawak, satu astronot AS dan dua kosmonot Rusia yang seharusnya kembali ke Bumi pada 8 September akan tinggal lebih lama di sana. Persedian makanan dan perlengkapan lain di ISS masih cukup setelah pesawat ulang alik Atlantis memasoknya bulan lalu.
Roket Soyuz sendiri sebelumnya menjadi andalan untuk menghubungkan Bumi dengan ISS. Kecelakaan minggu lalu adalah yang pertama dari 44 kali peluncuran untuk memasok perlengkapan di stasiun.
Pada versi berawak, Soyuz dilengkapi fasilitas keamanan yang memungkinkan penumpang bisa menyelamatkan diri bila terjadi masalah serupa. Namun sepertinya tidak ada yang ingin mengambil resiko dengan tetap menerbangkan astronot ke ISS.
"Terbang dengan aman adalah hal yang jauh lebih penting daripada hal lain," kata Suffredini. "Saya yakin kita masih punya kesempatan untuk membicarakan implikasi lainnya. namun yang harus kita lakukan adalah tindakan paling aman bagi para awak dan stasiun itu sendiri."