Renungan Minggu

Deni Leiden Waljufri STh : Dibenarkan Karena Tuhan

Israel memang telah gagal sehingga dibuang ke Babel. Tetapi Tuhan dalam kasih setia-Nya, berjanji akan memulihkan mereka.

GMIM Petra Kinilow Tomohon

YESAYA 44 : 21 – 28

"Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus Engkau"

Kalimat di atas merupakan ajakan Tuhan yang penuh kasih, agar umat-Nya kembali kepada-Nya. Israel memang telah gagal sehingga dibuang ke Babel. Tetapi Tuhan dalam kasih setia-Nya, berjanji akan memulihkan mereka.

Hal utama yang ditekankan di sini: Tuhan adalah Allah. Allah yang telah membentuk mereka sebagai hamba-Nya. Walaupun Israel telah memposisikan diri di luar perjanjian yang diikrarkan oleh Musa, Allah tidak menolak mereka. Ia tidak melupakan mereka. Ia bahkan menghapus dosa pemberontakkan mereka seperti kabut diterbangkan oleh angin, seperti awan yang tertiup. Hubungan dengan Allah dipulihkan, Israel kembali memuliakan Tuhan, mengagungkan-Nya. Israel mau bersaksi tentang kebaikan Tuhan.

Di dalam dunia ini, tidak ada manusia yang hidupnya sempurna. Karena itu tidak ada manusia yang tidak pernah jatuh dalam dosa. Siapakah di antara kita yang berani mengatakan bahwa kita tidak pernah berbuat dosa? (band. 1 Yoh 1 : 8, 9) Allah sangat mengasihi kita. Meski keberadaan kita seperti itu, dalam kasih setia-Nya, Ia selalu memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Ia telah menebus dosa kita. Ia telah menghapus dosa pemberontakkan kita melalui kematian-Nya di salib. Bagi kita tersedia pengampunan dosa, asal kita mau datang kepada-Nya.

Kalau Tuhan mengajak kita dengan lembut: "Kembalilah kepada-Ku", janganlah kita menolak dan mengeraskan hati. Ingat! Tidak pernah ada kesempatan yang terulang dalam kehidupan kita. Kesempatan berikutnya, pasti tidak sama dnegan kesempatan sekarang. Karena itu, sekali lagi, jangan tolak ajaran Tuhan. Jangan tolak keagungan kasih-Nya bagi kita. Ia memanggil dan memanggil kita untuk kembali kepada-Nya. Mari, kembali kepada-Nya!

Mengapa harus kembali kepada-Nya? Karena kita telah dibenarkan. Coba kita lihat, berapa banyak orang beragama sekarang yang meminta untuk dibenarkan. Mereka mematuhi ajaran agamanya dengan mengejar kebaikan. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan pembenaran. Dari pembenaran itulah mereka akan mendapatkan keselamatan. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus tidak lagi kuatir dengan hal yang demikian. Mengapa? Karena kita telah dibenarkan tanpa mengejar kebenaran itu.

Contohnya begini: seorang anak bernama Andy ketiduran saat mengerjakan pekerjaan rumahnya pada waktu malam. Ia terkejut ketika bangun di waktu pagi dan mendapati ia terlambat ke sekolah. Tapi ia pun segera bergegas menyiapkan diri walaupun terlambat.

Sesampainya di sekolah ia pun harus menghadapi masalah lebih besar: ia tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah saat itu penting dan mempengaruhi nilai kelulusannya. Dengan takut ia menghadap gurunya. Tapi apa yang terjadi? Sang guru tiba-tiba berkata bahwa Andy tidak perlu mengerjakan tugasnya lagi.

Walaupun ia telah salah karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tapi toh ia tetap mendapatkan nilai penuh. Andy terkejut dan menanyakan hal itu kepada gurunya? Tapi, tak ada alasan dari gurunya. Bukan karena Andy baik atau gagah atau memiliki kelebihan. Tapi karena Andy tidak punya apa-apa. Artinya? Tidak ada alasan membenarkan Andy.

Demikian pula dengan kita orang percaya. Tuhanlah yang telah membenarkan kita terlebih dahulu tanpa alasan. Dan hal ini telah terjadi sejak zaman bangsa Israel dulu. Allah selalu membenarkan bangsa Israel meskipun mereka telah gagal dan selalu mengulangi dosa mereka. Tapi dengan penuh kasih Allah selalu menyelamatkan mereka.

Pembenaran yang sempurna itu kemudian berlangsung di zaman Yesus Kristus, ketika Allah sendiri yang datang membenarkan umat manusia. Bukan karena kita baik, bukan karena kita berkenan di hadapan Tuhan. Tapi karena kasih karunia Tuhan semata, tanpa alasan.

Ingatlah selalu ini hai orang percaya? Agar setiap tindakan baik kita di dunia ini tidak membuat kita berbangga diri atau sombong, tapi semata hanya karena ucapan terima kasih atas hadiah yang telah dianugerahkan Allah sendiri bagi kita. Terpujilah Tuhan. Amin. (*/obi)

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved