Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

17 Agustus

Kisah Bocah Plastik Girian yang Putus Sekolah

Kala panas terik mengancam, sengatan ultra violet di kulit terasa menderita.

Editor:
zoom-inlihat foto Kisah Bocah Plastik Girian yang Putus Sekolah
TRIBUNMANADO/BUDI SUSILO
Bocah penjual plastik menghitung laba
Laporan Wartawan Tribun Manado Budi Susilo


TRIBUNMANADO.CO.ID
- Kala panas terik mengancam, sengatan ultra violet di kulit terasa menderita. Himpitan desakan keramaian orang membuat pengap sulit mencari kesejukan membuat kedukaan perasaan. Atmosfir ini sudah biasa dialami oleh bocah Noval Karim (13), penjual plastik di pasar Girian, Selasa (16/8/2011).

Bertepatan detik-detik perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ini, Noval harus berjuang mencari sesuap nasi untuk menambah penghasilan uang sakunya. "Cari uang buat bantu orang tua," tuturnya kepada Tribun Manado.

Ia mengaku, masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama 1 Atap di Gorontalo. Ia mengisi kesehariannya berdagang plastik dan sebagai kuli panggul di pasar. "Isi waktu liburan cari uang, lumayan seharinya itu bisa dapat uang Rp 17 ribu," ungkap Noval.

Senada, Sulaiman, pergi ke pasar berjualan plastik. Dirinya mengaku tidak lagi duduk dibangku kelas enam sekolah dasar negeri 1 Tridarma Gorontalo. "Saya putus sekolah. Pindah ke sini (Bitung) cari uang," tuturnya.

Bocah kurus berperawakan dekil ini diniatan terdalamnya ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi namun berhubung desakan ekonomi maka cari uang bantu keluarga.

"Tiap pagi dari jam 7 harus jualan plastik cari uang, tidak ada waktu untuk sekolah," kata Sulaiman yang kini bertempat tinggal di Manembo-nembo.

Lainnya, Duais Moha (7), lebih memilih berjualan plastik ketimbang sekolah sebab dirinya disuruh oleh kakak kandungnya sendiri untuk berjualan. "Kaka botak suruh saya jualan. Buat bantu nenek sama mamak," tutur polosnya.

Bocah tersebut baru mengenyam bangku SD kelas satu. Saat dicoba oleh Tribun Manado, dirinya tak mampu membaca, kebingungan tampak mengental di raut wajahnya ketika disuruh membaca rangkaian huruf abjad. "Sudah dua kali tidak pernah naik sekolah," katanya.

Anak kecil yang berjualan plastik di pasar Girian bukan saja di dominasi kaum lelaki, mereka pun yang perempuan ada yang berjualan. Satu di antaranya, Hanifah Bahri (9), mencari uang untuk membantu ibunya. "Capek sih dari pagi jualan plastik," ungkapnya.

Perempuan ini mengaku masih mengenyam bangku sekolah dasar di Madrasah Ibtidaiyah 3 Bitung. Selain alasan bantu orang tua, aktivitasnya menjual plastik untuk mengisi waktu liburan sekolah.

"Masuk sekolah 12 September nanti. Sekarang cari uang untuk kasih ke Ibu dan buat keperluan beli barang lebaran," kata Hanifah.

Gadis ini masih belum ada bayangan ke depannya. Sebab ia pun belum memiliki cita-cita ingin menjadi apa. "Masih bingung mau jadi apa ya?," tuturnya sambil menggelengkan kepala. (budisusilo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved