Pidato Presiden

SBY: Indonesia Bisa Jadi Negara 10 Besar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, saat ini Indonesia telah tampil sebagai salah satu negara demokrasi paling stabil

SBY: Indonesia Bisa Jadi Negara 10 Besar
net
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, saat ini Indonesia telah tampil sebagai salah satu negara demokrasi paling stabil dan mapan di Asia. Indonesia telah berhasil melewati arus sejarah dalam sepuluh tahun era reformasi. Indonesia telah mampu menjawab tantangan zaman dan tuntutan rakyat untuk melakukan perubahan-perubahan fundamental. .

Bahkan, menurut Presiden, Indonesia tercatat sebagai negara dengan skala ekonomi terbesar. Banyak pihak menyebut Indonesia sebagai emerging economy, bukan ekonomi dunia ketiga yang selama lebih dari 60 tahun selalu diasosiasikan dengan negara kita.

"Saat ini, negara kita juga memiliki peluang yang sangat baik untuk menjadi salah satu negara dengan skala ekonomi sepuluh terbesar di dunia dalam dua sampai tiga dasawarsa mendatang," kata Presiden ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan RI di depan sidang bersama DPD dan DPR, Selasa (16/8/2011) di Kompleks Parlemen, Jakarta.

"Semua prestasi yang kita capai dalam tahun-tahun terakhir ini menegaskan satu kepercayaan, jalan menuju masa depan yang lebih baik itu berada di depan kita, untuk kita jalani bersama. Dengan kepercayaan diri yang penuh, tetapi tetap rendah hati, saya bisa pastikan bahwa kita bukan negara yang berada di bibir jurang kegagalan dan kebangkrutan," lanjut Presiden.

Hadir dalam sidang tersebut Wakil Presiden Boediono, jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga tinggi negara, dan lain-lain.

Presiden mengatakan, persepsi Indonesia sebagai negara gagal telah sirna. Hal ini terjadi seiring dengan keberhasilan Indonesia keluar dari krisis multi-dimensional yang berlangsung selama 1998-1999. Saat krisis tersebut, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Hampir semua lembaga keuangan dan perbankan kehilangan kepercayaan dari pelaku pasar, baik dari dalam maupun luar negeri.

Saat itu, ujar Presiden, Indonesia juga menghadapi konflik komunal berbasis etnik dan agama di sejumlah daerah serta ancaman disintegrasi teritorial. (*)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved