Bulan Ramadhan
Ada Pasar Ramadhan di Kotamobagu
Ada pemandangan yang berbeda di Kotamobagu setiap bulan Ramadhan tiba.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Ada pemandangan yang berbeda di Kotamobagu setiap bulan Ramadhan tiba. Di berbagai sudut kota muncul jongko-jongko yang menjual berbagai panganan seperti kue-kue dan minuman untuk takjil.
Warga Kotamobagu menyebut pasar makanan dadakan tersebut Pasar Ramadhan karena hanya muncul selama bulan ke sembilan di kalender hijriyah. Pasar ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun.
"Sejak saya kecil, kalau diajak ke Kotamobagu di bulan Puasa, pasar makanan ini sudah ada," ujar Ali Kobadaha, asal Tonayan yang kini tinggal di Motoboi Kecil, Kotamobagu, Senin (2/8/2011).
Pria berusia 28 tahun ini mengisahkan, dua Pasar Ramadhan yang kerap dia kunjungi waktu kecil adalah di Kampung Baru dan Mogolaeng. Sampai sekarang, di dua kelurahan tersebut Pasar Ramadhan paling besar.
"Saya suka sekali mencari Inambal, panganan khas Bolmong yang sudah jarang ditemui. Di bulan Ramadhan biasa makanan tersebut ada," tambah dia.
Pasar Ramadhan ini mampu menggerakkan perekonomian pedagang kecil kendati hanya di bulan puasa. Kartini Sengkey, seorang pedagang di Pasar Ramadhan yang berada di Kampung Baru mengaku omzet jualanya sehari bisa mencapai Rp 700 ribu.
"Sebenarnya tergantung kemampuan modal dan tenaga, kalau ingin lebih besar lagi ya barang daganganya harus lebih banyak," ujar Kartini.
Hal tersebut diiyakan oleh Ade Sengkey, adik Kartini yang membantu kakaknya berjualan. Dia menambahkan modal terbesar adalah untuk membeli bahan-bahan aneka kue dan makanan lainya.
"Kalau sewa lapak, hanya Rp 5 ribu. Itu pun kalau jualan, kalau tidak berjualan tak akan ditagih sama panitianya," jelas Ade.
Kartini menerangkan, ada waktu-waktu tertentu di mana daganganya laris. "Biasanya seminggu pertama dan seminggu terakhir bulan Ramadhan. Minggu-minggu di antaranya biasanya tidak terlalu ramai," terangnya.
Terkait pengelolaan Pasar Ramadhan, Pemkot Kotamobagu sepenuhnya menyerahkan kepada panitia-panitia lokal di kelurahan setempat. Pemkot Kotamobagu hanya membantu saat pasar senggol yang biasanya berlangsung 10 hari sebelum lebaran.
"Kami tidak turut campur (Pasar Ramadhan). Biarlah masyarakat menikmati kegiatan tersebut," ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Hamzah Kastur. (suk)