Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadhan

Berziarah ke Kubur sebelum Puasa Ramadhan

JELANG detik puasa warga muslim Bitung menjalankan ritual ziarah kubur.

Editor:
zoom-inlihat foto Berziarah ke Kubur sebelum Puasa Ramadhan
TRIBUNMANADO/BUDI SUSILO
JELANG detik puasa warga muslim Bitung menjalankan ritual ziarah kubur.
Laporan Wartawan Tribun Manado Budi Susilo

JELANG detik puasa warga muslim Bitung menjalankan ritual ziarah kubur. Sudah jadi tradisi turun-temurun seremonial ini terus berlangsung tak hilang digerus arus jaman modernisasi seperti contohnya budaya komplek makam di Girian.

Satu di antaranya, gadis perempuan berambut panjang Via Pricillia (19), ditemui saat sibuk menyabut rerumputan di makam kakeknya menuturkan, setiap memasuki awal puasa sekeluarga berziarah, bersih-bersih makam.

"Saya hanya ikut-ikut. Diajak ibu. Sudah jadi tradisi," ungkapnya kepada Tribun Manado, saat ditemui di komplek makam muslim Girian, Minggu (31/7/2011).   

Via datang ke komplek makam Girian bukanlah sendiri, bersama nenek dan ibu kandungnya mendoakan jenzah yang telah menyatu dengan tanah.

"Kalau tiap Kamis bukan hari puasa Ramadhan rutin bersih-bersih. Tapi kalau mau masuk puasa maka selama sebulan itu tidak pergi ke kubur. Nanti lagi kalau sudah perayaan hari lebaran ke kuburan lagi," ungkap perempuan yang kini bekerja di PT Angkasa Pura Manado ini.

Lainnya, Widiyanto, sambil menyapu makam Ibunya menuturkan, membersihkan dan berdoa di kuburan itu bagian satu bukti orang yang masih hidup menghargai atas jasa-jasa orang telah mati.

"Anak yang saleh itu selalu ingat mereka yang telah mendahului kita. Mendoakan dan membersihkan," tutur pria yang kini menjabat sebagai Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Bitung ini.

Sejarah ritual bersih makam jelang puasa Ramadhan adalah tradisi jaman dahulu, sebab menurut Ustad Mus Makalag, pemuka agama Girian Bawah menuturkan, tidak tahu secara persis tahun berapa ada budaya ziarah dan bersih kubur. "Sejak saya lahir tahun 1952 sudah ada tradisinya, turun-temurun sampai generasi sekarang," ungkapnya.

Pria keturunan bangsa Arab ini menjelaskan, ritual ziarah kubur itu memiliki manfaat dan unsur ibadah. "Mereka yang belum mati akan ingat kematian. Jadi sudah memantapkan persiapan sebelum mati," ujar Ustad Mus.

Di ritual ziarah pun diselingi bacaan doa-doa, tentu ini adalah unsur ibadah, menunjukan seseorang masih peduli dan mengingat orang yang sudah pergi mendahului ke alam barzah (kubur). "Kirim doa kebaikan itu amal soleh," ungkap pria kelahiran Kema 10 Agustus 1952. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved