Nikah Massal
Merasa Tersaingi Anak, Suryadi Ikut Nikah Massal
Banyak cerita yang terungkap dari setiap peserta nikah massal yang dilaksanakan di Istora Senayan Jakarta, Selasa (19/7/2011).
Niat Suryadi mengikuti nikah massal terinspirasi dari anaknya yang telah menikah di KUA sehingga dinyatakan sah secara agama dan negara karena memegang akta nikah. Ayah empat anak ini mengaku merasa tersaingi dengan anak keduanya, Iis.
"Anak saya sudah duluan menikah, dia menikah secara sah di KUA dan punya surat nikah, masa saya tidak punya," ungkap Suryadi saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta dalam acara nikah massal yang diselenggarakan Yayasan Pondok Kasih, Senin (19/7/2011).
Kecemberuan terhadap anaknya tersebut pun akhirnya terwujud, setelah dirinya mendapatkan informasi dari aparat pemerintah Rawalele, Jakarta Pusat tentang adanya nikah massal. Ia pun langsung bergegas membawa isterinya, Nurahmah untuk mendaftar.
"Kita diberi tahu sama RT, menyuruh saya ikut nikah massal," ucapnya.
Suryadi menikah ketika berumur 22 tahun bersama Nurahmah saat itu dibawah tangan, sehingga tidak memiliki akta nikah. Sedangkan, anak keduanya Iis menikah di KUA tahun lalu.
Tetapi, pernikahan anaknya tersebut dinilai cukup mahal karena harus merogoh kocek yang cukup besar."kemaren anak saya menikahn habis Rp 1 juta, kalau sekarang kan gratis, paling bayar sama RT saja," ucap kakek berumur 47 tahun ini.
Kini Suryadi pun memegang akta nikah, sehingga pernikahannya diakui secara negara. Ungkapan kesenangannya terpancar dari wajahnya yang berseri-seri sambil menatap wajah sang isteri. "Sekarang saya senang karena punya surat nikah kayak anak saya. Surat nikahnya jadi seminggu yang lalu," ungkapnya.