Gunung Lokon Status Awas

Terkini Lokon: Amplitudo Gempa Tremor Tadi Sore 3 Milimeter Sekarang Capai 20 Milimeter

Hendra Gunawan, Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Lokon meminta masyarakat Kota Tomohon tetap waspada

Penulis: | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Warstef Abisada


TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON
- Hendra Gunawan, Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Lokon meminta masyarakat Kota Tomohon tetap waspada menyusul dinaikkannya status ke awas. Sebab, aktifitas kegempaan yang terekam lewat seismograf sulit memastikan kapan terjadinya letusan besar.

"Masyarakat harus tetap waspada, karena status sudah dinaikkan. Kini tinggal tunggu apa yang akan terjadi," ujar Hendra Gunawan, Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Lokon, Senin (11/7/2011).


Menurutnya, aktifitas Gunung Lokon kini sangat menarik, sebab berbeda dengan yang terjadi sebelumnya. Sekarang bisa terjadi letusan besar saat terlihat gempa vulkanik maupun tremor yang banyak. "Harusnya melihat aktifitas Lokon saat ini sudah terjadi letusan besar seperti yang ditunjukkan Soputan, tapi ini tidak terjadi. Ada perubahan perilaku, karena meski gempa tidak banyak tapi tetap meletus meski dalam skala kecil," ujarnya.

Ia menegaskan aktifitas gempa menunjukkan perkembangan signifikan, bahkan letusan terjadi secara berkala yang awalnya berdurasi dua jam hingga tinggal 15 menit saja. Magma ang menerobos dari kedalaman diduga hanya berada beberapa ratusan meter dari permukaan kawah. "Harusnya sudah meletus, tapi karena magmanya (cair) diam maka tak terjadi," katanya.

Apalagi karakter Lokon awalnya terkenal dengan sumbat lava, yang menunjukkan letusan ketika terjadi gempa sekitar 6 jam secara kontinu. "Jika terjadi sumbat lava, potensi akumulasi gas kian tinggi hingga letusan bisa terjadi dan terlihat. Tapi kini hanya hembusan dan gas cepat keluar yang diikuti abu vulkanik," ujar Hendra.

Emisi gas juga, menurutnya terjadi peningkatan signifikan sejak meletus 26 Juni lalu. "Mudah-mudahan Lokon jinak, gas dilepas terus dan tak ditimbun. Jika terjadi sumbat, bahaya lebih besar karena bisa memicu awan panas yang meluncur dengan cepat," tegasnya.

Gas (SO2) naik dari 100 ton menjadi 150 ton per hari dan amplitudo naik hingga 20 milimeter. Ruskandi Mulyana, dari Tim Sosialisasi Bahaya Gunung Lokon menegaskan yang mesti diwaspadai adalah bahaya awan panas, gas dan peoklastik (abu). "Kawasan rawan bencana ditetapkan hingga mencapai 3,5 Km. Jadi warga harus beraktifitas di luar area itu, jika tidak bisa jadi korban, karena kecepatan dan suhu awan panas sangat tinggi. Tak bisa lari, karena gerakannya sangat cepat," katanya.

Hingga pukul 23.50 Wita kondisi belum stabil karena gempa tremor fluaktuatif di mana amplitudo mencapai 20 milimeter dari sebelumnya pada sore hari sekitar 3 milimeter dan belum terjadi letusan sejak letusan terakhir sore tadi. (war)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved