Daur Ulang

Sampah itu Bersahabat dan Bernilai Ekonomi

Keberadaan sampah dikehidupan layaknya momok yang menakutkan bagi setiap orang sepanjang masa

Sampah itu Bersahabat dan Bernilai Ekonomi
TRIBUNMANADO/BUDI SUSILO
Sampah kardus akan didaur ulang jadi barang baru.
Laporan Wartawan Tribun Manado Budi Susilo

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Keberadaan sampah dikehidupan layaknya momok yang menakutkan bagi setiap orang sepanjang masa. Namun tidak bagi Deby Tampi (32), warga Danowudu Kota Bitung yang menganggap sampah sebagai barang yang bernilai ekonomis.

Dibengkel sampahnya yang sudah dua tahun berjalan, Deby bersama rekan-rekan pegawainya untuk rela bergaul dekat dengan tumpukan sampah bekas pakai orang.

"Awal sempat tak biasa. Namun lama kelamaan sudah biasa tidak ada masalah. Syukur juga tak pernah sakit selama disini," ujarnya ketika berbincang dengan Tribun Manado di ruang bengkelnya Kelurahan Danowudu lingkungan satu, Sabtu (9/7/2011).     

Sore itu, sekitar pukul 15.00 Wita, perempuan bertubuh gempal itu mengamati beberapa karyawannya yang sedang sibuk mengepak sampah. Satu demi satu lembaran seperti beberapa kardus dipilah ditumpuk jadi satu kesatuan utuh sebelum dilanjutkan ke tahap proses penggilingan daur ulang menjadi barang baru.

Bercerita kebelakang, hanya bermodalkan keberanian, Deiby memulai menggeluti usaha bisnis daur ulang limbah sampah tanpa sungkan dan rasa geli jijik terhadap sampah. "Dulu awalnya saya keliling-keliling pakai mobil bak terbuka cari sampah ke warung-warung. Malam hari saat itu," ungkapnya.

Namun berkat keuletan pantang menyerah, hari demi hari terlewati, Deiby pun lambat laun mampu membuka ruang bengkel besar pengumpul sampah.

"Sekarang lumayan punya tempat. Sudah bisa memperkejakan orang lain. Rencanaya kedepan saya mau tambah lagi," tutur perempuan berambut lurus ini.   

Sampah yang diidolakan Deiby itu berupa sampah kertas berbentuk kardus, koran dan plastik serta kaleng berbagai ukuran. Ia olah menjadi barang yang siap di daur ulang kembali menjadi barang jadi berdaya guna.

"Proses daur ulangnya di Jawa. Saya disini hanya mengumpulkan belum bisa olah karena belum memiliki mesin daur ulangnya," katanya.   

Meski dirinya hanyalah lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas konsentrasi Pariwisata, kecintaan terhadap pekerjaanya sebagai pengumpul sampah bukanlah menjadi hal yang memalukan untuk dilakukan. "Tidak ada hubungannya sih dengan ilmu yang saya emban," tegasnya.

Tetapi menurutnya, bila dikaitkan dengan jurusan pendidikannya bidang pariwisata, pekerjaan sampah dengan dunia pariwisata ada kaitannya. "Modal awal bangun pariwisata adalah kebersihan lingkungan. Makanya saya ambil bagian mengurangi sampah di lingkungan," tutur Deiby.

Logikanya, jelas Deiby, bagaimana mungkin para wisatawan akan hadir mengunjungi Bitung dalam keadaan kotor, bau dan keindahan kurang. Tentu wisatawan yang akan pelesiran melihat prasyarat kebersihan dan keramahan tata kota, indah dari berseraknya sampah.

"Ayo bersihkan kota dari sampah. Jadikan sampah yang ada di kota kita jadi barang berguna dan berdaya ekonomi," imbuhnya.

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved