Renungan Minggu

Bahasa Roh dan Pekabaran Injil

Salam dalam Kasih Kristus... Terlalu sering kita mendengar orang berkata ‘nah ini/itu bahasa roh’ saat mendengar

Bahasa Roh dan Pekabaran Injil
ist

Kisah Para Rasul 2: 1- 11, I Korintus 14:1-25, Galatia 5:22

Karolina Augustien Kaunang
Dekan Fakultas Teologi UKIT

Salam dalam Kasih Kristus...
Terlalu sering kita mendengar orang berkata ‘nah ini/itu bahasa roh’ saat  mendengar ada orang berbicara dan atau berdoa dengan bahasa yang tidak dimengerti bahkan bahasa yang tidak ada dalam kamus manapun. Orang yang berbahasa seperti ini sering dianggap mempunyai karunia roh yang tingkat kerohaniannya lebih tinggi. Apakah benar demikian? Mari kita lihat apa kata Alkitab tentang bahasa roh. Tiga bagian Alkitab yang diangkat dalam renungan ini menjadi dasar  telaaah bersama. Tentu saja dalam waktu dan sarana yang terbatas ini hanya akan ditelaah secara umum. 

Hari Minggu tanggal 12 Juni 2011 ini adalah hari Raya Gerejawi yaitu Pentakosta. Pentakosta adalah kata Yunani “Pentekoste” yang berarti hari yang kelimapuluh. Dalam konteks peristiwa Paskah Yesus Kristus, penentuan hari ini dihitung 50 hari sejak hari raya Paskah atau 10 hari sesudah hari raya Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga yang berjarak 40 hari sesudah hari raya Paskah. Tanggal 12 Juni adalah tanggal bersejarah bagi Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang menetapkannya sebagai hari Pekabaran Injil (PI) dan Pendidikan Kristen (PK) GMIM. Tahun ini  PI dan PK berusia 180 tahun.

Tahun ini bertepatan dirayakan hari  Pentakosta dan hari ulang tahun PI dan PK GMIM.  Kebertepatan hari ini punya arti tersendiri karena  hakikat dari hari Pentakosta menjadi dasar dari tugas pekabaran Injil dan pendidikan Kristen. Pentakosta juga dikenal sebagai hari lahirnya Gereja di mana Roh Kudus dicurahkan kepada para murid dan semua orang yang hadir dalam peristiwa itu.

 Roh Kudus dikaruniakan kepada para murid untuk berbicara atau bersaksi kepada semua orang yang berkumpul waktu itu. Orang-orang yang berbeda-beda bahasa dapat mendengarkan Firman Tuhan dalam bahasanya sendiri dari orang (para murid Yesus) yang dikenal sebagai orang  Galilea. Dapat kita bayangkan ketercengangan orang banyak waktu itu. Murid-murid yang adalah  orang Galilea itu dapat bersaksi dalam bahasa orang lain a.l. Asia ( ayat 9) dan Arab (ayat 11). Ini luar biasa.

Dari cerita ini, kita tahu bahwa yang disebut bahasa Roh ialah bahasa yang dimengerti oleh para pendengar. Maaf… bukan bahasa komat-kamit yang tidak dimengerti oleh para pendengar.

 Bahasa roh adalah bahasa yang dipakai oleh manusia untuk mengkomunikasikan sesuatu. Bahasa-bahasa di dunia ini adalah pemberian Allah agar di antara manusia dapat saling mengerti, memahami dan menerima kenyataan kepelbagaian. Kepelbagaian itu yang mengayakan kehidupan bersama.

Kekayaan karena kepelbagaian ini mendewasakan setiap orang  untuk siap menghadapi kenyataan apapun tanpa kehilangan jati dirinya yang otentik. Hanya orang dewasa dalam arti menerima dengan aktif kenyataan kepelbagaian ini yang dapat hidup tentram dan damai dengan siapa saja.

Dengan bahasa kita berkomunikasi dan membangun kehidupan bersama. I Korintus 14: 1-25 menyampaikan kepada kita tentang permasalahan di sekitar bahasa roh. Bahasa roh harus ditafsirkan, bahasa roh menggunakan kata-kata yang jelas. Bila tidak ada yang menafsirkan dan kata-kata tidak jelas, maka bahasa roh itu tidak ada faedahnya. 

Bahasa roh itu harus dimengerti oleh para pendengar( Jemaat) agar jemaat dapat dibangun atau untuk membangun jemaat. Bila karena bahasa roh lantas jemaat terpecah atau berpecah-pecah maka itu pertanda bahwa bahasa roh itu bukan bahasa dari Roh Kudus yang dituangkan pada hari Pentakosta. 

Rasul Paulus berucap “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari  pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.” (ayat 19-20).

Dengan bahasa yang dimengerti maka Injil Yesus Kristus dapat disebarkan di mana-mana termasuk diperdengarkan di tanah Minahasa oleh para misionaris/zendeling yang datang dari Belanda (Schwarz) dan Jerman (Riedel). Berita Injil atau berita sukacita atau kabar baik disampaikan dalam bahasa yang dimengerti, sehingga hari demi hari banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus.

Pertanyaan kita  ialah apakah bahasa yang dipakai oleh GMIM sekarang adalah untuk membangun Jemaat? Apakah komunikasi di antara warga gereja komunikatif? Apakah kalimat dalam tata ibadah, dalam surat-surat keputusan, dalam khotbah, dalam pembinaan, dalam pertemuan adalah bermanfaat untuk membangun persekutuan jemaat? Kalau di antara warga jemaat saja sudah tidak saling mengerti, memahami dan menerima, bagaimana dengan  warga publik di sekitar kita? Kalau GMIM dalam sejarahnya menjadi pelopor dalam pendirian sekolah-sekolah mulai TK sampai Peruruan Tinggi, lalu bagaimana kondisi pendidikan  ini sekarang? 

Seratus delapan puluh tahun PI dan PK GMIM adalah momentum penting untuk berintrospeksi dan bertindak bersama tentang hakikat menggereja dalam misi yang holistik. Saat-saat ini adalah saat untuk bertanya apakah Roh Kudus ada di antara dan bersama kita? Apakah buah Roh (Galatia 5:22) nampak dalam bergereja ? Untuk itu saya mengajak kita berdoa sebagaimana pernah menjadi tema Sidang Raya PGI yaitu “Ya Roh Kudus, baharuilah dan persatukanlah kami.” Amin. (*)

Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved