Praktik Aborsi
Kuburan Massal di Taman
TAK ada yang menyangka kalau di balik kemegahan rumah sekaligus klinik milik dokter Elizabeth Egam-Mandagi , tepat
TAK ada yang menyangka kalau di balik kemegahan rumah sekaligus klinik milik dokter Elizabeth Egam-Mandagi , tepat di belakang swalayan Borobudur Pal 2 menyimpan rahasia besar. Kabar yang beredar klinik ini melayani praktik aborsi. Dan lebih menyeramkan, taman di halaman dalam merupakan kuburan massal janin-janin hasil aborsi.
Saat memasuki halaman bangunan megah yang kelihatan tidak terawat ini, Kamis (19/5) sore, terasa hawa dingin. Tampilan dinding bangunan yang kusam dan pohon besar membuat perasaan angker.Memasuki klinik ini, terlihat suasana suram dan kurang terawat.
Sebuah kamar yang dijadikan ruang laboratorium dan ruang kantor yang pintunya tertutup. Agak ke belakang terdapat semacam ruangan tempat mencuci. Di ruang tamu, beberapa akuarium kosong, kotor, dan tidak terawat dibiarkan begitu saja.
Menelusuri terus ke sebelah kanan ruang tamu akan ditemui ruang kecil tepat di depan ruang praktek dokter. Di ruangan ini terdapat sejumlah peralatan medis dan botol berisi obat-obatan. Di ruang yang agak tersembunyi inilah, menurut informasi sebagai tempat dokter atau stafnya bertemu dengan pasien untuk nego harga dan dibuatkan surat pernyataan bahwa pasien bukan akan diaborsi dokter tetapi mengalami pusing, mual, dan pendarahan, sehingga membutuhkan perawatan dokter.
Di depan ruangan ini terdapat ruang dokter, yang didalamnya berisi meja kerja dan lemari untuk mengisi segala keperluan medis yang dipakai dokter. Suasana dalam ruangan dokter sedikit temaram karena hanya dilengkapi satu lampu penerang.
Agak ke belakang sebelah kanan dari ruang konsultasi pasien dan ruang dokter, akan dijumpai satu ruangan khusus dokter Elizabeth .Dokter Elizabet memantah ruangan ini untuk menjalankan praktek aborsi, tetapi sebagai tempat operasi dan membantu persalinan pasien melahirkan.
Di dalam ruangan ini terdapat dua tempat tidur yang dipakai dokter memeriksa usia kandungan pasien, satu lemari, satu inkubator untuk bayi, dan satu tempat tidur khusus untuk membantu proses persalinan. Terdapat juga alat vakum.
Ordie, mantan sopir pribadi dokter Elizabeth mengatakan, alat ini untuk
menyedot janin atau bayi yang akan diaborsi, dimana sebelumnya pasien telah disuntik cairan khusus untuk mempermudah keluarnya janin atau bayi.
Masih di sekitar tempat tidur khusus ini, terdapat satu meja terbuat dari beton dan dilapisi tegel, tempat diletakan kapas, dan perlengkapan medis lainnya. Dua tabung oksigen juga tertata di samping kiri tempat tidur khusus ini.
Mirisnya, tampilan tempat tidur khusus dan peralatan medis elektrik yang digunakan ini kelihatan kotor, tidak terawat, dan terkesan sangat jauh dari higienis. Hal ini dibuktikan dengan sisa ceceran darah segar usai aborsi yang dibiarkan begitu saja bersama selembar kain dengan noda darah segar yang tidak dibersihkan oleh dokter atau staf klinik ini.
Keluar dari ruangan ini tepat di depan ruangan kita sudah memasuki bagian belakang bangunan klinik. Di tempat ini terdapat satu kolam renang berukuran sedang yang sudah tidak digunakan lagi. Hanya sedikit air hujan dan sampah dedaunan yang dibiarkan tertampung begitu saja di dalam kolam ini.
Sesuai pengakuan Tonny, tenaga kebersihan klinik, di pinggir kolam renang inilah tempat dia menguburkan puluhan janin hasil aborsi. Tepat di depan kolam renang, terpampang satu halaman cukup besar dengan taman yang dipenuhi rumput liar yang dipangkas pendek, juga beberapa pohon rimbun di sekitar taman.
Di sekeliling taman berdiri dua bangunan yang digunakan sebagai penginapan pasien. Menurut saksi, di taman ini terkubur puluhan bahkan ratusan janin dan bayi hasil aborsi sejak tahun 1990 silam.
Sekeliling halaman belakang bangunan klinik ini dibatasi dengan dinding yang cukup tinggi sehingga suasana di lokasi ini tidak bisa terpantau dari luar dinding pembatas.(ika)