Menelusuri Kejayaan Kerajaan Siau (4/habis)
ADA 21 raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Siau yang kini masuk wilayah Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara.
ORDA begitu orang-orang disekitarnya menyapa pria bernama lengkap Orlando David ini. Sepintas penampilannya seperti pria dewasa berbadan tegap dengan betuk tubuh agak tambun dan kulit sawo matang.
Ia murah senyum, komunikatif dan pintar berbicara termasuk dalam menanggapi berbagai isu politik dan kemasyarakatan di tingkat daerah hingga internasional. Kepalanya agak plontos layaknya seorang profesor. Orda belum lama menikah dan sekarang berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kantor Kecamatan Siau Timur. Sebelumnya Ia berprofesi sebagai jurnalis di sebuah media cetak lokal di Manado dengan pos liputan daerahnya sendiri Sitaro.
Tanpa bermaksud mengklaim, namun Orda percaya Ia adalah keturunan ke-5 dari Raja Lamuel David yaitu Raja Siau ke Lima Belas. Saat ditemui Tribun Manado beberapa waktu lalu, di kediamannya Kelurahan Tarorane, Orda berpakaian layaknya warga sipil yaitu celana pendek dan kaos- bukan memakai jas ataupun berjubah raja.
Rumahnya permanen, berlantai ubin layaknya rumah modern desain mediterania. Berlokasi di sebuah kelurahan yang rupanya didominasi rumah-rumah berdesain klasik-modern dibagian Kota Ulu, Pulau Siau bagian Timur ini.
Kepada Tribun Manado, Orda pun menjelaskan beberapa hal termasuk silsilah keluarganya yang berada digaris keturunan Raja David.
"Raja David itu kakek buyut kami. Sebenarnya nama aslinya Samuel Manderos. Dia menjadi raja atas intervensi Belanda karena itulah dia punya nama Baptis karena dia dibaptis pihak Belanda yang mulai masuk Siau lalu diberi nama baptis Lamuel David," jelas Orlando.
Menurut Orlando, kehidupan mereka saat ini sudah jauh berbeda dengan pada zaman kerajaan. Tidak ada lagi pelayan, pengawalan, istana seperti sistem kerajaan yang masih tertinggal di Inggris atau Kraton Jogjakarta.
Kehidupan Orda maupun beberapa warga yang merupakan keturunan asli Raja-raja Siau sudah selayaknya warga sipil biasa yang hidup berbaur dan harus bekerja untuk mempertahankan hidupnya.
"Tapi memang kami dihormati. Artinya jika orang asli Siau yang kenal kami mereka kadang segan untuk berbicara atau untuk bertemu. Selebihnya? Kami hidup seperti warga biasa harus bekerja untuk bertahan hidup," kata David.
Kehidupan di Pulau Siau menurut David sangat indah. Sejumlah masyarakat sudah hidup modern namun tetap menghormati sejarah. Seperti budaya 'obote' yang acapkali diidentikkan dengan makna 'sombong,' menurut Orda itu hanya bagian dari sikap warga yang masih merasa bagian dari keluarga raja ataupun bangsawan di Siau. "Orang disini jika dia merasa dia keturunanan raja atau bangsawan kerajaan Siau maka dia akan bersikap sombong. Artinya, dia akan merasa dia bisa melakukan apapun karena dia penguasa tanah di Pulau ini," cerita Orda. Tidak heran ada sejumlah warga yang enggan menerima orang asing (pendatang) di lingkungannya apalagi jika orang asing dengan bersikap arogan atau merasa sukunya lebih baik dari Orang Siau asli.
Sambil mengambil sebuah buku yang berisi daftar nama-nama raja dan asal-mula dan sejarah kebudayaan di Siau, Orda mulai menyebutkan beberapa marga yang masih termasuk keturunan raja dan masih berada di Pulau Siau yaitu marga Winsulangi, Yacobus, Ponto, David dan Kansil. Untuk marga Salindeho, Bogar, Hengkengbala itu adalah marga keluarga-keluarga bangsawan pada masa kerajaan. "Selain raja dulu ada kaum semacam legislatif yang mendampingi raja dan mereka masuk dalam tataran keluarga bangsawan kerajaan Siau," ujar Orda.
Habju Salindeho (61) tokoh masyarakat Siau yang tinggal di Kelurahan Tatahade Lingkungan I Kecamatan Siau Timur pun menyatakan hal yang sama. Pria yang rambutnya mulai beruban ini merasa kakek buyutnya adalah orang-orang yang bersama raja melawean tipu-daya penjajah Belanda.
Walaupun akhirnya ada beberapa raja yang terpaksa menandatangani perjanjian taat kepada Belanda namun menurut Salindeho, secara diam-diam saat ini pihak kerajaan dan bangsawan di kerajaan Siau selalu berusaha mengusir Belanda karena menindas rakyat dengan usaha untuk merebut kekayaan alam. "Di Pulau Siau tahun 1850-an pada masa Raja Jacob Pontoh sudah pernah dikibarkan bendera merah-putih dan memang sejak Raja Winsulangi bendera merah putih sudah ada di Siau itu menjadi semacam bendera kerajaan," katanya.
Ada tugu merah putih di Pulau ini sebagai bukti dari peristiwa merah putih di Siau. Tugu ini menjadi semacam situs dan saat ini masih dirawat warga Kampung Peling, Kecamatan Siau Barat yaitu lokasi tugu ini berada.
"Waktu zaman Belanda masuk Siau, semua pulau ini sudah ada Cengkeh dan Pala. Nah, jika Belanda lihat ada beberapa tanah kosong maka tanah itu harus ditanam pohon Pala dan hanya kaum bangsawan yang boleh punya kebun Pala. Itupun dibawah kekuasaaan Belanda," katanya.
Namun demikian, menurut Salindeho, hal positif yang patut disyukuri dari masuk penjajah Belanda adalah ajaran tata cara menanam, merawat dan mengelola tanaman Pala. Ada beberapa teknik dalam cara mengelola tanaman maupun hasil panen yang secara turun-temurun dilakukan orang Siau dengan baik dan tanpa disadari itu adalah teknik yang diajarkan penjajah Belanda pada waktu ingin menguasai Pulau Siau.
Selain keturunan para raja Siau dan keluarga bangsawan kerajaan Siau, ada juga keturunan panglima Raja Laksamana Hengkeng U Naung yang masih hidup yaitu Opa Kumi yang kini menjadi tokoh adat Siau. Sayangnya Tribun Manado belum bisa menemui Opa Kumi karena tempat tinggalnya harus dijangkau dengan transportasi laut akibat 2 jembatan yang putus karena aliran lahar Gunung Karangetang yang mengalir Jumat (18/3).
Sejarawan Sulut Fendy Parengkuan membenarkan jika kerajaan Siau pernah ada dan bukan dongeng sempat sebab didukung keberadaan situs sejarah seperti makan raja dan situs lainnya. Namun demikian, menurut Parengkuan, asal-muasal penduduk di Siau perlu dilakukan penelitian sejarah secara serius. "Sejarah dan cerita rakyat atau dongeng itu berbeda. Memang Pulau Siau itu unik jika sejarahnya bisa terurai sesuai standar adanya suatu cerita sejarah maka hal ini merupakan kekayaan bangsa dan bisa menjadi aset pemerintah Sitaro untuk menjadikannya daya tarik wisata budaya," kata Parengkuan.
Terkait adanya keturunan raja-raja yang pernah berkuasa Siau, Parengkuan membenarkan akan adanya keturunan raja langsung yang masih hidup saat ini. "Itulah keistimewaan masyarakat budaya yang memakai marga (fam)," kata dosen Fakultas Sastra Unsrat Manado ini.
Sistem kerajaan di Siau sampai pada abad ke-20 termasuk adanya Raja ke-21 yaitu Parengkuan yang berkuasa mulai tahun 1930-1945. Fendy Parengkuan mengatakan keturunan raja-raja Siau masih ada sampai saat ini namun sistem kerajaan yang sudah terhapuskan membuat nilai kebangsawanan dalam kehidupan bermasyarakat itu punah dengan sendirinya. (yudith rondonuwu)