Menelusuri Kejayaan Kerajaan Siau (3)
Catatan sejarah juga menuliskan wilayah Kerajaan Siau pernah mencakup kekuasaan hingga ke bagian selatan Pulau Sangihe, Pulau
KERAJAAN Siau dalam catatan sejarah Belanda tercatat pernah mengusir armada Kerajaan Makassar yang menduduki wilayah Bolaang Mongondow. Pernah juga prajurit kerajaan Siau yang dipimpin Laksamana Hengkeng U Naung yang menghalau para armada perompak asal Mindanao hingga terjadi pertempuran di perbatasan Tomohon-Tondano yaitu di daerah Kasuang sekitar tahun 1520. Kasuang dalam bahasa Siau artinya 'mayat.' Sejak saat inilah terjadi hubungan baik antara kerajaan Siau dan pimpinan-pimpinan daerah di Minahasa dan sekitarnya dengan komitmen saling menjaga dan tidak akan saling menjajah.
Catatan penting lainnya adalah perjuangan raja-raja Siau yang berani melawan penjajah Belanda sekitar tahun 1594. Raja Siau Ketiga Winsulangi yang dikenal dengan nama baptis Don Jeronimo Winsulangi saat ini sempat membuat perjanjian kerjasama keamanan dan perlindungan dengan gubernur Spanyol untuk wilayah Asia (Filipina) di Manila. Sejak itu kerajaan Siau dijaga oleh Spanyol. Beberapa tahun kemudian, kerajaan ini menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan Islam, seperti kesultanan Ternate, Kerajaan Bolaang Mongondow dan Kerajaan Bolangitan (Kaidipang) yang saat itu diislamkan Ternate.
Walaupun sempat dikuasai Belanda sekitar tahun 1677 para pangeran dan puteri kerajaan Siau tetap melanjutkan tradisi kawin-mawin dengan pangeran dan puteri kerajaan-kerajaan tetangga. Termasuk kawin-mawin dengan kerajaan Bolaang Mongondow dan Bolangitang yang muslim. Raja Jacob Pontoh yaitu raja keempatbelas Siau rupanya adalah pangeran hasil perkawinan antar putri kerajaan Siau dan putri Kerajaan Bolangitang. Dia sendiri menjadi Raja Siau bukan karena putra mahkota murni tetapi atas petunjuk Komolang Bobatong Datu (Majelis Petinggi Kerajaan) yaitu semacam lembaga legislatif yang dibentuk oleh Raja Winsulangi. Cerita turun-menurun menyebutkan pengganti raja khususnya raja ke 11 hingga ke 14 sudah bukan dari turunan raja melainkan diambil dari pangeran yang berdarah Siau yang berada di kerajaan tetangga.
Raja Jacob Ponto adalah satu dari 21 raja yang terkenal karena ketegasannya menolak penjajahan Belanda. Ia bahkan tidak mau mengibarkan bendera Merah-Putih-Biru milik Belanda di halaman istananya. Ia hanya mau mengibarkan bendera kerajaan berwarna merah-putih yang rupanya sudah dipakai sejak zaman Raja Winsulangi.
Pada tahun 1889, Belanda dengan siasat seperti yang dilakukan pada Pangeran Diponegoro pada tahun 1830 menipu juga raja Jacob Ponto. Wakil Residen Manado datang ke Siau dan memintanya naik ke kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Ulu Siau. Belanda menyatakan ingin merundingkan hal penting dengan raja. Namun pada saat di kapal itu, Raja Jacob Ponto malah ditawan dan dibuang ke Karesidenan Tjirebon (Cirebon). Tak heran di kalangan masyarakat Siau raja ini terkenal dengan gelar `I tuang su Sirebong' (Tuan Raja di Cirebon).
Hingga tahun 1999 warga Cirebon yang tinggal di kawasan yang pernah menjadi lokasi tawanan Raja Pontoh sering mengelar upacara khusus untuk menghormati jasanya sebagai orang (pahlawan) yang berani melawan Penjajah Belanda.
Terpisah, Sejarawan Sulut, Fendy Parengkuan membenarkan adanya sistem kerajaan di Siau. Namun menurutnya bukti otentik sejarah yang saling terkait hanya bisa disebutkannya dari masa kepemimpinan Raja Winsulangi. "Ingat sejarah dan cerita rakyat itu berbeda. Kalau dari sejarah memang Pulau Siau pernah memiliki kerajaan dan beberapa raja hanya saja asal-mulanya secara pasti belum bisa dibuktikan," ungkap dosen sejarah Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado ini kepada Tribun Manado, Selasa (29/3).
Dikatakan Parengkuan, dalam catatan sejarah ada 3 raja siau yang terkenal yaitu Raja Winsulangi, Raja Batahi yang merupakan putri Raja Winsulangi dan Raja Parengkuan. "Ketika raja ini punya catatan sejarah yang terkait dengan sejarah di Minahasa jadi bukti otentiknya kuat," ujarnya.
Raja Winsulangi adalah orang pertama yang kontak dengan Spanyol yang pada saat itu berpangkalan di Manila Filiphina. Raja ini membuat perjanjian persahabatan dengan Gubernur Spanyol untuk mendapatkan perlindungan dari serangan bangsa-bangsa lain. Anaknya Winsulangi yaitu Batahi dikuliahkan di Manila. Putra Winsulangi itu kemudian kembali ke Siau saat sudah selesai studi di perguruan tinggi di Manila untuk mengantikan ayahnya dan mendapat gelar Raja Don Xaverius Batahi pada tahun 1593.
Menurut Parengkuan, pada saat menjabat menjadi raja, Batahi pulang menjadi Raja Batahi menjalin hubungan baik dengan Spanyol. Lalu hubungan itu retak karena Belanda mengalahkan Spanyol dan sempat menguasai Pulau Siau.
"Pada saat yang sama Spanyol ingin kuasai Minahasa karena potensial daerahnya yang kaya akan kayu dan rempah-rempah. Namun Minahasa sulit dikuasai karena tidak ada sistem kerajaan. Sementara di Siau jika sudah menawan raja maka rakyatnya akan ikut pada mereka yang mengalahkan rajanya," papar Parengkuan.
Setelah dikalahkan Minahasa, Bangsa Spanyol yang menetap di Siau yaitu di Benteng Lalento dan Benteng Santa Rosa yang berlokasi di Ondong mulai kehabisan logistik. Bangsa Spanyol mulai mencuri makanan warga Siau setempat dan membuat Raja Batahi Marah besar. Terjadilah peperangan antara Kerajaan Siau dan Spanyol sehingga Spanyol kalah.
Perang Minahasa-Spanyol tahun 1644-1645 dalam perang Spanyol kalah. Kalau Kerajaan Siau sempat terjalin hubungan baik dengan Spanyol sampai tahun 1666. Sayangnya setelah berhasil mengusir Spanyol, Belanda masuk ke Siau dan menguasai raja dengan strategi mereka. "Sangat benar jika pulau Siau disebut pulau Ringgit karena sejak jaman masuknya bangsa Portugis dan Spanyol, Pulau Siau sudah terkenal dengan kekayaan cingkeh dan pala. Sampai saat inipun mereka satu dari beberapa daerah penghasil Pala terbaik di dunia," katanya.
Dikatakan Parengkuan, Raja Batahi tidak punya hubungan dengan Minahasa. Pada tahun 1677 pun Raja Batahi terpaksa menyerah kepada Belanda. "Sebenarnya kalau pemerintah perhatian memang raja Batahi pantas mendapat gelar Pahlawan karena Ia melawan penjajah Belanda dan berhasil melindungi rakyatnya saat itu," kata Parengkuan. Terkait keberadaan Raja ke 21 yaitu Raja Parengkuan, menurutnya memang bukti otentiknya ada sebab sampai saat ini masih ada keturunan Raja Parengkuan yang masih hidup dan tahu akan cerita kakeknya yang makamnya berada di Airmadidi, Minahasa Utara (Minut). (yudith rondonuwu)