Breaking News:

Menelusuri Kejayaan Kerajaan Siau (2/bersambung)

dat-budaya mapaluse (gotong royong) masih terasa di Pulau Siau (02o 45' 00'' LU dan 125o 23' 59'' BT) Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara


Wartawan Tribun Manado berfoto di makam Raja Siau Pertama. Foto Ist

Adat-budaya mapaluse (gotong royong) masih terasa di Pulau Siau (02o 45' 00'' LU dan 125o 23' 59'' BT) Kabupaten Sitaro, Sulawesi Utara (Sulut). Sistem strata atau kasta seperti di Bali, rupanya masih menjadi bagian dari masyarakat yang terkenal dengan Gunung Api Karangetangnya ini. Hal ini disebabkan adanya sistem kerajaan yang eksis sekitar 4 abad dengan 21 raja yang pernah berkuasa. Sejumlah warga yang masih memakai marga sama dengan marga raja-raja tersebut sampai saat ini masih ada yang merasa jika mereka adalah bagian dari keluarga berdarah biru atau kaum bangsawan.

BERDASARKAN
cerita sejumlah warga yang berhasil diwawancarai Tribun Manado dalam kunjungan ke Pulau Siau dan sekitarnya, serta sebuah karya tulis milik AKBP Rolly Laheba SH Mhum-seorang perwira putra Siau yang kini bertugas di Jakarta- tercatat ada 21 raja yang dipercayai pernah memimpin Siau sebagai sebuah kerajaan yaitu Raja Lokong Banua (Raja pertama yang menjabat tahun 1510-1549), Raja Pasumah ada juga yang menyebut Raja Posumah (Raja kedua menjabat tahun 1549-1587), Raja Wuisang (Raja ketigamenjabat tahun 1587-1591), Raja Winsulangi (Raja keempat menjabat tahun 1591-1631), Raja Batahi (Raja kelima menjabat tahun 1631-1678),

Raja Monasehiwu (Raja keenam menjabat tahun 1678-1680)
Raja Raramenusa dengan nama lain Raja Hendrik Daniel Yacobus (Raja ketujuh menjabat tahun 1680-1716), Raja Lohintundali dengan nama lain Raja David Yacobus (Raja kedelapan menjabat tahun 1716-1752), Raja Ismael Yacobus (Raja kesembilan menjabat tahun 1752-1788), Raja Begandelu (Raja kesepuluh menjabat tahun 1788-1790).

Raja Umboliwutang dengan nama lain Egenos Yacobus (Raja kesebelas menjabat tahun 1790- 1821), Raja Paparang (Raja keduabelas menjabat tahun 1822-1838), Raja Nicolas Ponto (Raja ketigabelas menjabat tahun 1839-1850), Raja Jacob Ponto (Raja keempatbelas menjabat tahun 1850-1889) Raja Lamuel David (Raja kelimabelas menjabat tahun 1890-1895), Raja Manalang Dulag Kansil (Raja keenambelas menjabat tahun 1895-1908), Raja AJ Mohede (Raja ketujuhbelas menjabat tahun 1608-1913) Raja AJK Bogar, (Raja kedelapanbelas menjabat tahun 1913-1918) Raja Lodewyk Nicolas Kansil, (Raja kesembilanbelas menjabat tahun 1920-1929), Raja Aling Yanis (Raja keduapuluh menjabat tahun 1930-1935) dan Raja PF Parengkuan (Raja keduapuluh satu menjabat tahun 1936-1945).

Asal Mula
Judsun Laheba tokoh pemuda di Pulau Siau mengatakan semua warga yang lahir dan besar di Pulau Siau pasti tahu cerita asal-mula adanya penduduk yang seiring dengan terbentuknya Kerajaan Siau. Menurutnya orang tua mereka selalu menceritakan tentang kehebatan raja-raja Siau dan hal ini dibuktikan dengan keberadaan tugu-tugu dan makam beberapa raja Siau yang memang masih ada sampai saat ini.

Raja pertama adalah cucu dari Sense Madunde orang pertama yang tinggal menetap di Pulau Siau. Konon Sense Madunde menikahi seorang bidadari yang bernama Sagheno. "Pulau ini memiliki banyak mata air dan sungai. Selain pemandangan yang indah karena semua pelosok pulau ini ada pohon. Orang-orang disini percaya dulunya Pulau ini tempat mandi 9 bidadari dari khayangan. Nah, satu dari bidadari itu menikah dengan Sense Madunde yang menyembunyikan sayapnya saat bidadari ini sedang mandi. Setelah menikahi bidadari ini, mereka menetap dan beranak cucu di Pulau Siau ini," urainya.

Dari hasil perkawinan Sense Madunde dan bidadari ini, lahir seorang putra sulung bernama Pahawong Suluge yang lahir dengan wajah tampan rupawan karena ibunya seorang bidadari. Pahawong Suluge kemudian merantau hingga ke Manado Tua pada abad ke-15 dan terpikat dengan Putri Ombunduata yang disebut juga Putri Kentenganghiabe dari Kerajaan Bawontehu yang ada di situ.

Dari pernikahan anak Bidadari dan Putri Raja inilah lahir Raja Lokong Banua. Awalnya Lokong Banua menetap dengan orangtuanya di Manado Tua namun ketika kakeknya meninggal Ia pun kembali ke Pulau Siau mengantikan kakeknya yang sudah diangkat penduduk di Pulau Siau sebagai Kulano atau pemimpin daerah. Dengan pemahaman akan keberadaan ibunya sebagai Putri Raja maka saat itulah Lokong Banua menetapkan dirinya dengan menggunakan istilah Raja bukan lagi Kulano. "Sejak itulah masyarakat disini mengenal istilah Raja dan perlakukan terhadap raja tentu saja berbeda dengan perlakukan terhadap pemimpin daerah atau kepala suku," katanya.

Raja pertama hingga raja-raja berikutnya mempunyai hobi berkuda. Mereka senang berkuda di daerah Pelabuhan Ulu di Wilayah Siau Timur hingga sebuah kawasan untuk kuda di Kaki Gunung Tamata yaitu sebuah gunung yang menjadi sumber mata air di Pulau ini. Para raja dan permaisurinya juga punya tempat pemandian khusus yang saat ini sudah menjadi bak penampungan air bersih PDAM Sitaro yaitu di Kelurahan Akesimbeka Kecamatan Siau Timur.   

Sampai saat ini ada banyak situs-situs sejarah yang juga menjadi bukti fisik akan adanya kerajaan di Pulau Siau. Selain kuburan raja pertama Lokong Banua, ada juga makam Raja Aling Yanis di Pesisir Pantai Kawasan Pelabuhan Kota Ulu dan makam Raja AJK Bogar di Terminal Ulu, Siau. Sayangnya, kedua situs ini tampak tidak terawat berbeda dengan makam raja pertama. Bahkan pantauan Tribun Manado, makam AJK Bogar disampingnya terdapat tumpukan sampah dan rumput hijau mengelilinginya. Padahal masih tertulis jelas di batu nisan dimakam itu 'Disini terbaring Paduka Raja Yang Mulia Raja Siau ke-15 dari tahun 1914-1918.' Tahunnya tertulis sama dengan urutan masa kepemimpinan raja namun menurut tua-tua Siau Habju Salindeho, Raja AJK Bogar adalah raja ke-17 di Kerajaan Siau. "Yang pasti dia adalah satu dari 21 raja yang pernah memimpin Siau," kata Salindeho. (dit)


 

Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved