Dari Parang Biasa Menjadi Pedang Samurai
Dari Parang Biasa Menjadi Pedang Samurai
Setelah kerusuhan di Ambon, tahun 2000, Ronny mulai pindah ke Manado. Ia mengaku dari Ambon hanya membawa baju dan selembar beberapa surat penting lainnya. Ayah dari Smith Kawaluyan dan Angel Kawaluyan mulai mencoba-coba membuat parang buat petani.
"Orangtua saya seorang pandai besi, sejak SMP dan saudara yang lain mulai membantu membuat parang. Dari situlah saya sering membuat parang," kata Ronny saat ditemui Tribun Manado di rumahnya di Perum Pandu, Lingkungan VIII, Kecamatan Mapanget, Rabu (9/2).
Setelah ia menikah, rupanya mertua Ronny, selain pandai besi, juga seorang ahli yang membuat souvenir. Suami
Nila Timbuleng ini mulai mencoba membuat souvenir seperti pedang samurai dengan menggunakan besi putih asli dan juga kayu hitam. Rupanya hasil produknya, tak kalah seperti aslinya.
"Saya membuat samurai itu karena melihat pedang samurai aslinya. Dulu saya hanya memasarkan sendiri dan menjual kepada teman-teman," ujar lelaki asli Tondano ini.
Bukan saja pandai membuat pedang samurai, Ronny juga mampu membuat souvenir lainnya seperti sangkur TNI yaitu pasukan Paskhas, pasukan Kopasus, pasukan Commando, dan pasukan cobra. Lalu Jantra atau kemudi kapal hiasan dengan menggunakan kayu hitam, pisau kembar, tongkat komando, atau tongkat yang didalamnya terdapat pisau, hiasan kayu kelapa, dan batok kelapa serta lain-lain sesuai pesanan.
"Semua pesanan bisa saya bisa buat asalkan ada contoh kayak foto. Kebanyak yang paling diminati adalah pedang hias. Sekarang pejabat-pejabat yang memesan, anggota dewan, kepala dinas, terakhir diberikan kepada Menteri Koperasi tahun lalu.," imbuhnya.
Untuk harga pedang samurai biasa, ia jual seharga Rp 1,5 juta untuk satu pedang. Sedangkan pedang samurai yang khusus seharga Rp 2 juta. Dalam sebulan Ronny bisa menghasilkan sekitar empat buah pedang souvenir, sehingga dalam sebulan, ia bisa menghasilkan sekitar Rp 6 juta. (deffriatno neke)