Kanal

PDIP Sulut Incar 33 Persen Suara, LSI: Gerindra Menyalip Golkar

Hasil survei LSI soal elektabilitas parpol peserta Pemilu 2019. - tribun manado/infografis:alex taroreh

Target Partai Berkarya tiap dapil akan memperoleh satu kursi. "Ada 80 dapil di Indonesia, jadi Partai Berkarya akan memperoleh 80 kursi," ujar caleg DPR RI ini.

Di dapil Sulut pun Partai Berkarya menargetkan satu kursi DPR RI. Untuk DPRD Sulut minimal akan memperoleh enam kursi. Ia yakin karena partai berkarya terus intens konsolidasi. "Kita keliling Sulut, ini ada di Sangihe bersama Ketua E2L (Elly Lasut)," ujarnya.

Komisioner KPU Sulut, Salman Saelangi (tribun manado)

KPU Sulut Bidik Pemilih Milenial

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut optimistis partisipasi pemilih akan lebih baik di Pemilu 2019. Komisioner KPU Sulut, Salman Saelangi mengatakan, jika ada survei mengatakan golput akan makin besar, justru tren partisipasi pemilu menunjukan angka sebaliknya.

"Kalau mengatakan golput akan tinggi dasarnya apa? Malah sekarang partisipasi pemilih makin meningkat," kata dia kepada tribunmanado.co.id, Rabu (12/9/2018). "Secara grafik dari pemilu ke pemilu di partisipasi meningkat tidak menunjukan tren penurunan," ujar dia.

Ia mencontohkan partisipasi pemilih ketika Pilkada 2018, hasilnya cukup menggembirakan. Total partisipasi Pilkada 2018 di enam daerah Sulut mencapai 85,3 persen. Bolmut menempati urutan teratas presentase partisipasi tertinggi 89,25 persen.

Melawan kotak kosong, angka partisipasi masyarakat malah melonjak hingga 87,5 persen di Pilkada Mitra.
Kemudian disusul Sitaro (86,7 persen), Talaud (86,19), Minahasa (81,69) dan Kotamobagu (80,17). Pencapaian partisipasi ini lebih tinggi dari angka nasional 77,5 persen.

KPU pun sudah punya langkah untuk meningkatkan partisipasi pemilih. "Kita tingkatkan sosialiasi yang langsung menuju ke basis keluarga. Atau forum warga," kata dia.

KPU saat ini coba juga fokus ke pemilih pemula maupun pemilih milenial. Pemilik hak suara, memilih pertama karena mereka paham pentingnya menyalurkan hak suara.

Punya keinginan berpartisipasi untuk menjadikan pilihannya sebagai pemimpin. Selain itu, partisipasi pemilih makin meningkat karena KPU terus berupaya menyiapkan Daftar pemilih yang bersih dan berkualitas
"Data pemilih juga memberikan dampak maksimal terhadap partisipasi pemilih," kata dia.

Tasya Tubagus (istimewa)

Siapkan Pilihan

Pemilih pemula termasuk Tasya Tubagus akan ikut menentukan siapa parpol dan capres-cawapres pemenang Pemilu 2019.

"Perasaannya senang dan bangga karena akan memilih pemimpin," ujar dia kepada tribunmanado.co.id, Rabu (12/9/2018) malam.

Untuk mempersiapkan diri, gadis kelahiran Matani Tumpaan 14 Juni 1999 ini banyak mencari informasi tentang calon presiden yang akan bertarung nanti.

"Selama ini saya pun tahu akan ada pemilihan presiden melalui televisi. Sering menonton televisi melihat berita-berita tentang calon presiden," ujar warga Sampana Kotamobagu ini.

Tasya pun mengatakan untuk memilih presiden nanti dia akan mencoblos calon yang baik dan memiliki motivasi untuk membangun Indonesia.

"Akan saya pilih pemimpin yang bisa membuat Indonesia lebih maju lagi," ujar dia.

Tasya pun berharap nantinya setelah pemilihan presiden, Indonesia akan bisa lebih maju dan jaya lagi. "Semoga Indonesia maju rakyatnya sejahtera," ujar anggota PMII Cabang Bolmong ini.

Jefry Paat (net)

Capres-Cawapres Jadi Penentu

Jefry Paat, Pengamat Politik dari Unsrat menilai hasil survei sah-sah saja, tapi tidak memberikan dasar dan jaminan parpol akan anjlok. Kembalikan ke parpol dengan adanya survei seperti ini, akan berusaha kerja sebaik mungkin dan lebih keras. Dengan survei ini keuntungan untuk parpol, ini juga sebagai warning bagi partai agar bisa kerja keras menghadapi Pemilu 2019.

Hadirnya survei soal percaya atau tidak, namun bagaimana melihat kekuatan dan kemampuan internal dalam menjual parpolnya.

Patokan angka-angka dalam survei itu mengacu pada electoral threshold 4 persen secara nasional. Ini belum menjadi patokan dan jamiman untuk melengserkan atau membuat parpol lengser.

Masyarakat harus tahu bagaimana jualannya dan kemampuan para caleg dalam partai bekerja keras. Karena Pemilu 2019, bukan hanya fokus pada pemilihan anggota legislatif RI, provinsi dan kota/kabupaten melainkan orang akan lebih terfokus pada pemilihan presiden.

Maka secara spontanitas orang akan mendukung parpol yang mendukung capres yang ia sukai. Contoh parpol koalisi Joko Widodo-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno otomatis akan didukung oleh pemilih yang menyukai capres-cawapres.

Rakyat sudah tidak lagi melihat siapa dia, tapi partai yang mendukung capres. Itulah yang akan mereka dukung rakyat.

Misalnya Partai Demokrat yang main dua kaki mendukung Prabowo-Sandi dan Jokowi-Amin. Itu lebih karena partai berlambang bintang mercy ketakutan. Kalau tidak didukung rakyat, partai bisa rapuh dan anjlok.

Ketua DPW Hanura Sulut Jackson Kumaat (kanan) berbincang bersama Ketum Hanura Oesman Sapta Odang dan sejumlah kader. (istimewa)

Golput Berpeluang Menangkan Pemilu

Golongan putih (golput) di setiap pemilu masih cukup tinggi. Tingkat partisipasi politik sejak pemilu rezim Orde Lama mulai dari tahun 1955 dan Orde Baru pada tahun 1971 sampai 1997, kemudian Orde Reformasi tahun 1999 sampai sekarang masih mengkhawatirkan. Pemilu 1955 mencapai 91,4 persen, golput 8,6 persen.

Baru pada era non-demokratis Orde Baru golput menurun. Pada Pemilu 1971, tingkat partisipasi politik mencapai 96,6 persen dan jumlah golput menurun drastis hanya mencapai 3,4 persen. Pemilu 1977 dan Pemilu 1982 hampir serupa. Partisipasi politik 96,5 persen dan golput 3,5 persen. 1987 partisipasi politik 96,4 persen dan golput 3,6 persen.

Pemilu 1992 tingkat partisipasi pemilih 95,1 persen dan golput 4,9 persen. 1997 partisipasi pemilih 93,6 persen dan golput 6,4 persen.

Pasca-reformasi, Pemilu 1999 partisipasi memilih 92,6 persen dan golput 7,3 persen. Angka partisipasi yang memprihatinkan terjadi pada Pemilu 2004, yakni turun hingga 84,1 persen dan jumlah golput meningkat hingga 15,9 persen.

Pilpres putaran pertama partisipasi pemilih 78,2 persen dan golput 21,8 persen. Putaran kedua partisipasi pemilih 76,6 persen dan golput 23,4 persen.

Pemilu 2009 partisipasi pemilih 70,9 persen dan golput 29,1 persen. Pilpres 2009 partisipasi pemilih 71,7 persen dan golput 28,3 persen. Pilpres 2014, partisipasi pemilih 69,58 persen. Pemilu 2014 partisipasi 75,11 persen.

Bagaimana dengan Pemilu 2019? Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia ( LSI) Denny JA menunjukkan orang yang tidak tahu, tak jawab atau belum memutuskan mencapai 25,2 persen. Jika dianggap golput, maka angka itu paling tinggi atau mengalahkan PDIP.

Sementara ada ada enam partai politik yang diprediksi tidak lolos ke DPR periode 2019-2024. "Saat ini elektabilitas dari keenam partai tersebut di bawah 1 persen. Bahkan, jika disimulasikan dengan menambah margin of error survei 2,9 persen, elektabilitas keenam partai tak cukup lolos untuk ambang batas parlemen 4 persen," papar Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, Rabu kemarin.

Sementara ada lima partai yang terancam tidak lolos ambang batas parlemen. Kata Adjie, jika disimulasikan dengan menambah margin of error survei sebesar 2,9 persen, kelima partai yang terancam itu masih berpeluang lolos menembus ambang batas parlemen.

Di sisi lain, partai politik juga masih bisa merebut 25,2 persen pemilih yang belum menentukan pilihannya pada Pemilu 2019. Oleh karena itu, ia menilai masih ada upaya bagi setiap partai untuk mengubah peta dukungan jelang Pemilu 2019. (Tribun/kps/crz/dik/ryo/ryo/art/crz)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg

Fenomena Air Terjun Sedudo Nganjuk Berubah jadi Hitam Pekat, Pengunjung Dilarang Mandi

Berita Populer