Kanal

Warga Lembeh Ini Sulap Perahu Bekas Jadi Rumah Makan

Pohon dan perahu kini di sulap menjadi hunian sekaligus rumah makan oleh Deitje Tamaka -

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pohon dan perahu kini di sulap menjadi hunian sekaligus rumah makan oleh Deitje Tamaka dan anaknya Handri dan Citra Tulenan.

Lokasinya yang berada di Pulau Lembeh tepatnya di Kelurahan Pintu Kota lingkungan IV.

Hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari Kota Bitung, dengan alat transportasi perahu atau kapal dari pelabuhan dan menuju ke rumah makan dapur bisa diakses dengan kendaraan motor ataupun mobil.

Baca: Pemkot Bitung Anggarkan Pengadaan Lahan SMP Negeri di Kecamatan Maesa

Rumah makan tersebut dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 22.00 Wita.

"Berawal dari keinginan tinggal di rumah nyaman dan jauh dari hiru pikuk perkotaan. Munculnya ide bangun rumah pohon. Dengan keberadaan kedua anak adalah perantau dan kebiasaan suka makan di luar, akhirnya muncul ide. Kenapa nggak bikin rumah makan aja. Selain hemat dari segi kesehatan makanan kita tahu. Hingga buatlah rumah makan dengan nama Dapur Mami Day," cerita Deitje kepada wartawan Tribunmanado.co.id.

Rumah makan tersebut didesaiannya berbahan limbah kayu di bentuk dengan berbagai model hiasan dan pernik menambah suasana rumah sekaligus tempat makan terlihat unik.

Selain itu di depan rumah pohon, terdapat perahu peninggalan almarhum suaminya di sulap hingga menjadi meja makan unik.

Baca: Tingkatkan Pelayanan Kesehatan, Pemkot Bitung Luncurkan Aplikasi BBBD dan Beres

Lokasinya yang berada di dekat pantai, rumah makan yang diberi nama dapur mami itu disekitarnya penuh dengan pohon-pohon dan binatang diantaranya burung weris dan ayam kampung. Ketika berada disana terasa nyaman.

"Menu yang ditawarkan pun bervariatif seperti makanan di restoran atau cafe di perkotaan, di dapur mami day ternyata ada menu andalan yang namanya mie ojo. Mie yang masih fresh ketika ada yg pesan baru di giling dan di masak," sebutnya.

Katanya, rumah makan ini dibangun Januari 2018. Usaha rumah makan di daerah pemukiman warga tentu tidak gampang karena dengan aktivitas warga, cenderung lebih memilih makan di rumah. Jadi harga makannya tak mahal.

Baca: 150 WNA Tanpa Dokumen di Bitung Ikut Tes Wawasan Kebangsaan untuk jadi WNI

"Meski usaha ini sudah lebih dari setengah tahun, kebanyakan yang diperoleh bukan untung tapi tekor alias rugi.  Tapi kami tetap berusaha karena yang menjadi dasar kami pertama adalah kualitas pelayanan dan produk yang kita sajikan. Soal untung dan rugi pasti ketika kualitas pelayanan sudah baik kita yakin rejeki akan datang sendrinya," katanya.

Ia menambahkan tapi yang disesali usaha ini terhalang dengan akses jalan masuk dan air bersih. Akses jalan yang kecil, dan air bersih yang masih numpang milik tetangga.(

Penulis: Chintya Rantung
Editor: Aldi_Ponge
Sumber: Tribun Manado

Kronologi Lengkap Mahasiswi Dibunuh Pacar di Aceh, Diajak Jalan hingga Pelaku Kabur ke Rumah Ipar

Berita Populer