Kanal

Mitos atau Fakta, Benarkah Marah-Marah Pertanda Hipertensi?

Benarkah emosi berhubungan dengan hipertensi? - Internet

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang dapat memicu timbulnya penyakit komplikasi seperti jantung koroner, stroke dan gagal ginjal.

Akibatnya, menurut penjelasan dari dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD-KGH, hipertensi berisiko tinggi menyebabkan kematian secara mendadak bagi para penderitanya.

“Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh yang memiliki pembuluh darah. Hipertensi juga sebagaisilent killer,” jelas Tunggul selaku Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia.

Tak hanya itu, menurut dr. Bambang Widyantoro, Sp.JP, PhD, hipertensiberpengaruh pada kondisi kesehatan lainnya.

Misalnya berpengaruh dalam kondisi psikologis seseorang yang dapat menimbulkan pengidapnya menjadi depresi.

Bahkan hal itu sudah dibuktikan oleh sebuah studi di luar negeri yang menyebutkan jika hipertensi berkorelasi dengan depresi.

“Alasannya karena tekanan darah tinggi itu terutama dalam jangka waktu yang panjang akan membuat orang menjadi depresi dan mengalami gangguan kecemasan,” jelas Bambang saat ditemui usai konferensi pers ‘Hipertensi dan Pencegahannya’ bersama Omron.

Akan tetapi, Bambang menegaskan jika hipertensi tidak ada hubungannya dengan asumsi khalayak yang mengatakan bisa membuat seseorang menjadi emosi.

“Tapi memang tidak seperti yang istilahnya beredar di masyarakat awam kalau sering marah-marah pasti hipertensi, itu tidak begitu,” ujar Bambang.

Bambang pun menambahkan jika hipertensi tak jarang berpengaruh juga pada kondisi insomnia pada seseorang.

Halaman
12
Editor: Ferra Faradila Rizki Sahibondang
Sumber: Nakita

Beredar Foto-foto Awal Penemuan Jasad Korban Pembunuhan Sekeluarga di Bekasi, 2 Anak di Kamar

Berita Populer