Info

Karena Hobi Mencabut Rambut Hingga Berjam-jam, Wanita 19 tahun Alami Gangguan Mental

Kondisi tersebut mulai berlangsung sejak Megan berusia delapan tahun dan pertama-tama suka mencabut bulu matanya.

Karena Hobi Mencabut Rambut Hingga Berjam-jam, Wanita 19 tahun Alami Gangguan Mental
Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID — Banyak wanita menghabiskan waktu hingga berjam-jam yang lama agar rambut terlihat sehat dan tebal.

Namun berbeda seorang wanita berusia 19 tahun di Long Island, New York, bernama Megan Prosser selama tiga jam ia malah mencabut rambutnya.

Memang tidak lazim mencabut rambut, karena wanita ini mengalani trikotilomania, kondisi mental yang memiliki keinginan untuk mencabut rambut tidak hanya di kepala, tapi bisa juga bulu mata atau bulu lainnya.

Baca: Hasil Liga Inggris Man City Vs Tottenham - Sundulan Manis Phil Foden Bawa City ke Puncak Klasemen

Baca: Semangat Babinsa Wineru Dampingi Petani Panen Padi Tak Pernah Surut

Kondisi tersebut mulai berlangsung sejak Megan berusia delapan tahun dan pertama-tama suka mencabut bulu matanya.

"Pertama saya didiagnosis dengan sindrom Tourette karena para dokter tidak dapat menentukan. Akhirnya pada tahun yang sama mereka mendiagnosis saya dengan trikotilomania," kata Megan.

Kondisi tersebut berlangsung hingga sepuluh tahun, dan jika mengalami sesuatu Megan bisa lebih banyak mencabut rambutnya sehingga membuat kepalanya botak.

Terkadang Megan berhasil melawan keinginannya untuk mencabut rambutnya, tapi terkadang ia tidak berhasil dan kerap mengganggu kehidupan kesehariannya hingga mentalnya.

Baca: VIRAL Pengantin Pria Meninggal Dunia Saat Menuju Prosesi Akad Nikah, Diduga Meninggal karena Hal Ini

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Megan memangkas habis rambutnya, tapi tidak benar-benar botak dan Megan mengaku sangat senang dan memiliki harapan untuk sembuh dari trikotilomania.

"Aku mencukur kepalaku dan aku bahkan tidak bisa menggambarkan betapa menyenangkan rasanya," tutur Megan.

Talia Wiesel, PhD, asisten profesor psikiatri OCD di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, menjelaskan trikotilomania ini masih terkait dengan OCD, sebuah gangguan obsesif-kompulsif, yang menyebabkan orang mengalami pikiran dan perilaku berulang yang kompulsif.

Baca: Hina Capres 02 di Instastory, Istri Andre Taulany Terancam Dipenjarakan

Banyak faktor yang menyebabkan misalnya riwayat keluarga trikotilomania dan gangguan kesehatan mental lainnya seperti depresi, kecemasan, atau OCD dapat meningkatkan peluang seseorang.

Trikotilomania biasanya menyerang pada awal masa remaja antara usia 10 dan 13 dan dapat dipicu oleh stres berat, tambahnya.

Perawatan bagi mereka yang menderita trikotilomania, termasuk terapi perilaku kognitif (CBT), yang dapat membantu menghentikan kebiasaan itu.

"Terapi perilaku ini adalah pengobatan utama untuk trikotilomania," kata Wiesel.

TAUTAN TERDAHULU

Editor: Gryfid Talumedun
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved