Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Sejarah 1956

Kemarahan Soekarno pada Saat Kunjungan ke Gedung Putih AS, Keterlambatan dan Topik Pembicaraan

Begini kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.

Editor: Frandi Piring
istimewa
Presiden RI Pertama Ir. Soekarno Hatta 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Begini kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.

Diketahui, kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, membuat Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno.

Puncak kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih, terjadi saat mendapatkan undangan khusus untuk berkesempatan berkunjung ke Gedung Putih.\

Soal penyebab Soekarno marah dan ancam Gedung Putih, bukanlah hal sepele namun kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih terjadi saat menunggu Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower. 

WartaKotaLive melansir TribunLampung, Presiden pertama RI Soekarno pernah mengancam pihak Gedung Putih Amerika Serikat saat kunjungannya ke negeri paman sam tersebut. 

Hal menarik untuk menelusuri, kisah ketika Soekarno diundang Presiden Dwight David Eisenhower ke Amerika Serikat.

Para petinggi AS menilai Soekarno memiliki peran besar terhadap Indonesia dan kawasan sekitarnya.

Mengundang Soekarno merupakan cara AS untuk memengaruhinya.

Ir Soekarno Hatta dan Dwight David Eisenhower
Ir Soekarno Hatta dan Dwight David Eisenhower (kolase/TribunJambi)

Perjudian AS

Pada konflik Perang Dingin dengan Uni Soviet, Amerika Serikat menilai membutuhkan kubu yang bisa memperkuat posisinya.

Berbagai negara sudah menetapkan posisinya untuk netral, termasuk Indonesia.

Dilansir dari buku Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (2008), karya Baskara T Wardaya situasi politik di Indonesia pada 1955 membuat AS pening.

Sebab, Indonesia berada pada dua kubu yang terdiri dari Sukarno, PNI dan PKI di satu sisi, serta Muhamad Hatta, Masyumi, dan Angkatan Darat di sisi lain.

Indonesia dinilai cenderung kepada Uni Soviet. Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi AS untuk bisa memengaruhi pemikiran Soekarno.

Wakil Presiden AS Richard Nixon sempat beradu argumen dengan Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles terkait sistem perpolitikan Indonesia.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved