Editorial Tribun Manado

Setelah Tambang Bakan Makan Korban

Pemerintah seharusnya aktif dan tegas memberantas PETI, bukan untuk melarang warga mencari nafkah, melainkan untuk meminimalisasi dampak-dampak risiko

Setelah Tambang Bakan Makan Korban
ISTIMEWA
Personel tim gabungan membawa jenazah korban longsor di tambang Super Busa, Desa Bakan, Lolayan, Bolmong. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Selasa, 26 Februari 2019, jelang tengah malam menyeruak berita yang keesokan harinya langsung menggemparkan: terjadi longsor di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Yang menggemparkan, di dalam lubang tambang ada banyak penambang yang diketahui sedang beraktivitas. Hari kedua dan ketiga (Rabu dan Kamis) tim SAR gabungan yang terdiri dari Badan SAR Nasional, BPBD, TNI, Polri, dibantu PT J Resources Bolaang Mongondow, warga, dan para penambang, sudah menemukan beberapa korban. Banyak di antaranya masih hidup dan langsung dilarikan ke RSUD Kotamobagu. Ada juga beberapa penambang yang kondisinya sudah tak bernyawa lagi.

Singkat kisah, pada hari ke-10, evakuasi para korban dihentikan. Padahal saat itu masih ada sejumlah nama yang dilaporan hilang tapi belum didapatkan. Basarnas yang memimpin operasi beralasan, lokasi tambang sangat berbahaya karena beberapa kali terjadi longsor; sangat berbahaya bagi tim penyelamat.

Peristiwa tambang Bakan kemudian disimpulkan dengan temuan 25 orang selamat, 24 orang meninggal dunia – termasuk beberapa penambang yang sebelumnya masih hidup dan dibawa ke rumah sakit, tapi akhirnya meninggal dunia. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulut yang bekerja mengidentifikasi para korban juga menyertakan data empat potongan tubuh yang tak teridentifikasi.

Bila seluruh data tersebut dijumlahkan berdasarkan kantong jenazah yang dibawa tim evakuasi, maka ada 36 orang korban dari peristiwa itu. Belum lagi bila harus menghitung korban yang masih dinyatakan hilang oleh para keluarganya, maka longsor di Tambang Bakan ini memang bukan sembarang peristiwa.

Korban nyawa yang diakibatkan dari peristiwa semalam ini lebih banyak dibanding banjir bandang di Manado pada 2014 dan awal 2019 beberapa waktu lalu. Pilu bertambah karena para korban yang meninggal adalah tulang punggung perekonomian keluarganya.

Meski hanya sekelas tambang rakyat, bekerja di tambang memang menggiurkan, Namun, meski hasilnya yang menjanjikan, risiko keselamatan juga sering mengancam. Selain ancaman longsor seperti peristiwa di atas, tambang rakyat juga berpotensi melahirkan konflik.

Bukan lagi rahasia bahwa dulu beberapa kawasan PETI di Dumoga, Bolaang Mongondow, serta di Ratatotok (Minahasa Tenggara), dan Tatelu (Minahasa Utara), menciptakan konflik horinsontal sesama penambang yang berebutan wilayah ‘kekuasaan’.

Segala ancaman dan risiko itu tetap akan menghantui kawasan PETI yang saat ini masih digarap selama statusnya liar, ilegal, tak bisa diatur. Tak heran bila Bupati Minahasa Tenggara James Sumendap bersuara keras dan menyebut Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Utara harus ditangkap dan bertanggung jawab karena membiarkan PETI beroperasi.

Pemerintah memang seharusnya aktif dan tegas memberantas PETI, bukan untuk melarang warga mencari nafkah, melainkan untuk meminimalisasi dampak-dampak risiko. Tanpa pemenuhan standar yang ditetapkan, kisah tambang Bakan atau tambang-tambang liar lainnya bakal terus berulang.

Warga pekerja atau pengusaha liar pun harus menyadari hal ini, karena semua hasil tambang itu tidak akan berguna bila nyawa melayang. (*)

Baca: Kasatlantas Kotamobagu Ulang Tahun, Kejutan Anak Buah dan Relasi Sungguh Sempurna

Baca: Viral Video Pindah Rumah karena Beda Pilihan Caleg: Meivo: Murni Masalah Keluarga

Baca: Khawatir Masih ada Bahan Peledak, Ratusan Warga Kota Sibolga Mengungsi

TONTON JUGA:

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved