Begini Kata Mantan Komisioner KPU Minsel soal Viral Video Pindah Rumah karena Beda Politik

Pengamat politik, Dr Fanley Pangemanan mengatakan, polarisasi begitu tajam menjelang Pilpres dan Pileg 2019. Misalnya kasus satu keluarga

Begini Kata Mantan Komisioner KPU Minsel soal Viral Video Pindah Rumah karena Beda Politik
Fanley Pangemanan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG – Pengamat politik, Dr Fanley Pangemanan mengatakan, polarisasi begitu tajam menjelang Pilpres dan Pileg 2019. Misalnya kasus satu keluarga di Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan terpaksa pindahkan rumah dari tanah milik kerabat karena diduga berbeda pilihan politik.

Kejadian relokasi rumah semi permanen milik Keluarga Panaumang-Pontoh di Desa Tawaang Timur ini ramai di media sosial, Facebook. Akun bernama G’Bra sempat mengunggah foto-foto sejumlah orang ramai-ramai memindahkan rumah beratap seng dan berdinding kayu. Bahkan video pindah rumah yang diunggah pada sebuah akun sempat viral.

Video siaran langsung yang di-posting pada Rabu (13/3/2019) pukul 11.36 Wita itu, sampai Kamis malam, pukul 19.34, telah ditonton lebih dari 2.100 kali, 50 komentar, 18 kali dibalikan.

Menurut Fanley, penting ada upaya serius pemerintah maupun rakyat untuk saling bekerja sama untuk menyejukkan suasana.
Kata dia, pilihan politik dalam demokrasi merupakan perbedaan lumrah, namun menjadi tak wajar ketika perbedaan menjadi kontraporduktif sehingga mencabik-cabik persatuan anak bangsa.

Lanjut Fanley, fenomena yang memanas ini, telah terjadi di bebrapa daerah. Pemilihan nanti berlangsung April bulan depan, namun klimaksnya memang pada tahapan kampanye. Melalui media sosial, ataupun berhadap-hadapan tiap kubu membela mati-matian jagoannya. Seolah kubu Z, yang pasti benar dan harus dibela mati-matian, sementara kubu lain pasti salah dan harus dihujat dan di-bully. “Sedemikian rupa demi kemenangan caleg atau pasangan yang diusung. demikian juga sebaliknya,” kata dia.

Menurut mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum Minsel ini, bila dilihat dari skala prioritas bangsa-negara, kepentingan mana yang jauh lebih utama dan diperjuangkan antara pileg dan pilpres lima tahunan (yang pada realitanya menimbulkan riak-riak perbedaan tajam yang bisa menggerus persatuan) atau persatuan dan kesatuan anak bangsa.

“Tentu saja, semua menginginkan keduanya tak perlu dinegasikan. Idealnya hajatan pilpres walaupun berbeda-beda pilihan tetap dalam kondisi sejuk dan damai,” ujarnya.

“Hanya saja, siapakah yang bisa menjamin situasi tetap aman terkendali, sehingga tak merusak kesatuan dan kerukunan? Mau tidak mau, masing-masing dari kita sebagai anak bangsa (baik pemerintah maupun rakyat) mempunyai andil dan peran untuk mengkondisikannya. Ketika melihat fenomena-fenomena yang mengarah pada perpecahan, maka segera diatasi dan dicari solusinya agar tidak menyebar luas,” kata Pangemanan.

Jangan sampai sejarah pilu yang merenggut persatuan anak bangsa terulang kembali hanya gara-gara pilihan politik yang berbeda. Melihat kasus yang terjadi di Minsel harusnya menjadi pembelajaran menuju dewasanya berpolitik.

Pemilik rumah mengeluarkan barang menjelang relokasi rumah di Desa Tawaang, Kecamatan Tenga, Minsel, Rabu (13/3/2019).
Pemilik rumah mengeluarkan barang menjelang relokasi rumah di Desa Tawaang, Kecamatan Tenga, Minsel, Rabu (13/3/2019). (istimewa)

Polemik dan konflik antar-penduduk yang terjadi di desa ini, hampir sama dengan kondisi saat ini di jagat media yang menggambarkan perbedaan yang begitu meruncing.

Perbedaan tajam ini, yang banyak disebabkan membabi buta pada caleg dan partai yang dijunjung, tak jarang menimbulkan konflik fisik.
Terlepas dari perbedaan tajam yang kemudian berbuntut keretakan persatuan itu, kalau dilihat dari penuturan masing-masing pendukung partai.

“Saya yakin, mengenai perbedaan yang terjadi di Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga, jika di antara mereka lebih mengedepankan prinsip Torang Samua Basudara, menjaga kesejukan, menjalin komunikasi yang baik, saling bertukar gagasan ideal untuk kepentingan yang lebih luas, tidak fanatis dan membabi-buta terhadap partai yang didukung serta menjadikan persatuan sebagai prioritas, maka perbedaan haluan politik di antara mereka yang kemudian menimbulkan konflik yang kontraproduktif bagi persatuan dan kesatuan, tak akan terjadi,” katanya.

Lanjut Fanley, mengambil pelajaran dari peristiwa sejarah tersebut, di era digital ini, bertepatan dengan hajatan Pileg dan Pilpres 2019, alangkah indahnya jika perbedaan itu tak sampai mencabik persatuan. Perbedaan dikelola untuk menuangkan gagasan dan ide terbaik untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mengolok-ngolok pihak lain.

“Di situasi semacam ini, kita benar-benar membutuhkan sosok pemersatu, penyejuk, pendamai, peredam. Figur yang tak jemu membangun dan mengupayakan spirit persatuan di kalangan pemilih. Kita sudah sama-sama maklum mengenai pribahasa "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh." Namun, menjadi sangat ironis jika hanya karena pemilu lima tahunan, lantaran tak dapat mengola perbedaan, keutuhan dan kesatuan anak bangsa tercabik dan terenggut, yang pada gilirannya rawan ditunggangi oleh orang-orang yang berkepentingan,” katanya. (dru)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved