Kalau Komoditas Pertanian Surplus, Kok Masih Perlu Impor? Ini Penjelasan Mentan

Saat ini masih banyak yang keliru perihal arti swasembada dan status swasembada Indonesia yang sebenarnya.

Kalau Komoditas Pertanian Surplus, Kok Masih Perlu Impor? Ini Penjelasan Mentan
Ilustrasi: Impor Jagung 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Jika komoditas pertanian Indonesia Suprlus. Mengapa impor masih perlu dilakukan pemerintah Indonesia.

Hal tersebut mencuat setelah acara Debat Calon Presiden (capres) putaran kedua yang membahas sektor pertanian, Minggu (17/2/2019).

Menteri Pertanian ( Mentan) Amran Sulaiman menjelaskan, saat ini masih banyak yang keliru perihal arti swasembada dan status swasembada Indonesia yang sebenarnya.

Karena menurutnya, kebijakan impor masih perlu dilakukan sebagai cadangan untuk menjaga stok serta menstabilisasikan harga di pasaran.

"Contoh beras, berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dari tahun 2016 hingga 2018 kita surplus. Adapun impor pada 2016 merupakan limpahan pada 2015. Kemudian 2018 beras surplus 2,85 juta ton, sementara impor tahun 2018 hanya sebatas cadangan,” tutur Amran sesuai dengan informasi yang Kompas.com terima, Selasa (19/02/2019).

Menteri Amran, ia juga turut menekankan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya fokus pada satu komoditas saja, akan tetapi sektor pertanian memiliki 460 komoditas yang harus dijaga siang malam.

Hasilnya, menurut Amran, ekspor komoditas pertanian strategis (kelapa sawit, kakao, karet, kopi, dan komoditas pertanian lain) mengalami peningkatan signifikan. Dengan rincian kelapa sawit naik 22,5 persen, karet 21,3 persen, dan kopi 28,6 persen. "Secara keseluruhan ekspor pertanian naik 29 persen di 2018," tutup Amran.

Seperti yang diketahui, capres nomor urut dua Prabowo Subianto mempertanyakan kebijakan pemerintah yang masih impor beberapa komoditas pertanian meski dilaporkan surplus. “Ya kenapa harus impor (gula). Ini yang menjadi masalah. kalau memang kita sudah kelebihan 3 juta, kenapa harus kita impor?,” ucap Prabowo saat debat capres

Sementara itu, capres nomor urut satu Jokowi menjelaskan jika hasil pertanian sangat berpengaruh pada kondisi cuaca, maka dari itu pemerintah perlu menyiapkan ketersediaan agar stok aman.

“Kita harus punya cadangan untuk bencana hingga gagal panen," jelas Jokowi saat debat capres putaran kedua.

Tercatat dalam 2 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia pernah melewati fenomena iklim El Nino dan La Nina secara berurutan yang disebut terberat sepanjang 71 tahun terakhir.
(*)

Editor: Charles Komaling
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved