Harry Kuncoro Terima Rp 30 Juta dari Algojo ISIS

Mantan narapidana terorisme, Harry Kuncoro alias Wahyu Nugroho alias Uceng (41 tahun) rupanya belum jera

Harry Kuncoro Terima Rp 30 Juta dari Algojo ISIS
tribunnews
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo memberikan keterangan pers. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Mantan narapidana terorisme, Harry Kuncoro alias Wahyu Nugroho alias Uceng (41 tahun) rupanya belum jera terhadap tindak pidana. Polisi pun menangkapnya saat hendak terbang ke Iran, untuk melanjutkan perjalanan ke Suriah dan bergabung bersama kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS). Harry mendekam 6 tahun di Lapas Pasir Putih Nusa Kambangan, Jawa Tengah, dan bebas tiga tahun lalu.

Harry ditangkap polisi tahun 2012 terkait kelompok pimpinan Dulmatin. Harry disebut-sebut sebagai aktor penting jaringan teroris di Indonesia.

"Setelah dikeluarkan (dari Lapas Pasir Putih Nusa Kambangan), Harry adalah aktor penting di Indonesia saat ini. Karena tersangka punya hubungan langsung ke (kelompok teroris) luar. Contact person di Suriah adalah Abu Walid," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (11/2).

Brigjen Dedi menyebut rencana perjalanan Harry sudah diatur warga negara Indonesia yang berada di Suriah, bernama Abu Walid. Menurut polisi, Abu Walid adalah algojo dalam kelompok ISIS. Abu Walid, dikabarkan tewas dalam baku tembak pada 29 Januari 2019 kemarin.

"Di organisasi ISIS di Suriah, dia sangat aktif sebagai algojo di Suriah. Abdul Walid sudah tewas 29 Januari 2019," ucap Dedi. Abdul Walid tewas 26 hari setel Harry ditangkap di Jakarta.

Berdasarkan hasil penyelidikan Densus 88 Antiteror, terungkap percakapan Abu Walid meminta Harry untuk ikut bergabung ke Suriah. Abu Walid lalu memfasilitasi dengan mengirimkan uang Rp 30 juta kepada Harry sebagai ongkos perjalanan, termasuk dokumen keberangkatan termasuk.

"HK selain intens dengan Abu Walid, juga berkomunikasi intens dengan kelompok di Suriah. Dia punya komunikasi cukup baik,"  ujar Dedi.

Menurut Dedi, Harry ditangkap pada 3 Januari 2019. Polisi sengaja tidak langsung mempublikasikan penangkapan Hari untuk kepentingan penyidikan.

"Tersangka tersebut ditangkap di Bandara Soekarno Hatta pada 3 Januari 2019. Kenapa baru diungkap setelah sebulan (penangkapan)? Karena memang proses investigasi, butuh penguatan alat bukti dan lainnya untuk mentersangkakan HK," ujar Dedi, mantan Wakapolda Kalimantan Tengah.

Harry hendak pergi ke Suriah melalui Iran, saat ditangkap polisi. Dia menggunakan identitas palsu agar lolos dari screening petugas. "Tersangka ini miliki nama lebih dari satu, karena untuk membuat paspor. Identitas paspor palsu tujuannya akan terbang ke Suriah melalui Iran," kata Dedi.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved