Mengapa Youtuber, Selebgram dan Vlogger akan Dikenakan Pajak? Sri Mulyani Sebut Nama Ria Ricis

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut nama youtuber Ria Ricis saat menjelaskan tentang pajak negara saat berbicara dalam kuliah umum di Unsrat manado.

Mengapa Youtuber, Selebgram dan Vlogger akan Dikenakan Pajak? Sri Mulyani Sebut Nama Ria Ricis
Tribun Manado
Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Rektor Unsrat Ellen Kumaat dalam kuliah umum di auditorium Unsrat, Kamis (17/1/2019). 

Kata dia, golongan UKM tersebut hanya membayar setengah persen final.

Menteri Keuangan Sri Mulyani turun dari panggung auditorium Unsrat seusai membawakan materi dalam kuliah umum, Kamis (17/1/2019).
Menteri Keuangan Sri Mulyani turun dari panggung auditorium Unsrat seusai membawakan materi dalam kuliah umum, Kamis (17/1/2019). (Tribun Manado)

Baca: Sukses Jadi Vlogger dan Miliki Rumah Mewah Senilai Rp 25 Miliar, Atta Halilintar: Orang Tidak Tahu

Baca: (VIDEO) Kenalan Yuk dengan Beauty Vlogger Asal Indonesia, Lihatnya Bikin Hati Adem

“Jadi itu adalah instrumen untuk menjaga keharmonisan dalam republik ini, sehingga bisa bangun jalan, sediakan air bersih, bangun satelit untuk konektivitas, bangun port, bangun kampus ini, bayar dosen, profesor, bayar guru, itu semua dilakukan dengan uang pajak dan menerima pajak untuk dipakai lagi,” terang Sri Mulyani.

Selain pertanyaan mengenai pengenaan pajak untuk youtuber, selebgram dan vlogger, Sri Mulyani juga menjelaskan pertanyaan at tentang pelaksanaan pesta demokrasi Pemilu Presiden dan Legislatif 2019, apakah akan berpengaruh atau tidak terhadap perekonomian bangsa Indonesia.

Kata Sri Mulyani negara Indonesia sudah sangat matang.

Dia yakin, meski sedang dalam tahapan pemilu ekonomi Indonesia tetap baik dan stabil.

BERITA POPULER:

Baca: Jadi Tersangka Kasus Prostitusi Online, Vanessa Angel: Aku Enggak Tahu Lanjutin Hidup ke Depannya

Baca: Drama Menegangkan saat Evakuasi 3 Buaya di Sulut, Ada Buaya Pemakan Manusia Seberat 600 Kg

Baca: Kisah Perjuangan Tuama Minahasa Ventje Tambuwun, Bangun Panti Asuhan di Bali saat Krisis Moneter

Karena biasanya orang melihat pada dua hal, investasi dan konsumsi, apakah investasi akan terpengaruh karena tahun politik.

"Saya melihat dalam kegiatan investasi sampai kuartal keempat tumbuh dan momentumnya tinggi. Pembentukan modal domestik bruto atau investasi gross itu tumbuh 7 persen sebelum 5 sampai 6 persen, sehingga saya tidak melihat bahwa investor melakukan penundaan," urainya lagi.

“Kemudian sektor konsumsi, apakah masyarakat merasa perlu berjaga-jaga karena ketidakpastian politik? Rasanya tidak. Konsumsi kita masih tumbuh di atas 5,1 persen, bahkan, kalau pemilu zaman dulu banyak pengeluaran yang dikeluarkan oleh legislator dan calon legislator sehingga meningkatkan konsumsi di masyarakat,” kata dia.

"Saya menganggap pemilu tidak akan memengaruhi perekonomian di Indonesia. Kalaupun ada, pengaruhnya pada positif. Saya berasumsi keamanan tetap terjaga, tidak ada terorisme, tidak ada terjadi bentuk-bentuk atau hal-hal yang menyebabkan masyarakat menjadi terancam hidupnya. Namanya pesta demokrasi harus positif," kata dia. (*)

Penulis: Christian_Wayongkere
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved