Beda Pilihan Politik Makam Pun Dipindahkan, Ini Tanggapan Pengamat Politik Sulut

Fenomena politik di Indonesia bukan hanya pemilihnya yang pragmatis namun kebanyakan para elite politiknya juga pragmatis

Beda Pilihan Politik Makam Pun Dipindahkan, Ini Tanggapan Pengamat Politik Sulut
Istimewa
Ferry Liando 

Beda Pilihan Politik Makam Pun Dipindahkan, Ini Tanggapan Pengamat Politik Sulut

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Fenomena politik di Indonesia bukan hanya pemilihnya yang pragmatis namun kebanyakan para elite politiknya juga pragmatis. Banyak caleg yang ingin menang dengan cara cari gampang.

"Tidak mau susah berjuang untuk mendapatkan jabatan yang diinginkan. Kebanyakan politisi kita mengajarkan jabatan bukan karena untuk mengabdi, tetapi karena ingin mendapatkan pekerjaan atau kebutuhan ekonomi," ujar pengamat politik Sulawesi Utara, Ferry Liando, Minggu (13/1).

Sebagian mencalonkan diri karena tidak mau disebut sebagai pengangguran. Sebagian bermotif menjadi anggota DPRD karena ingin dihormati atau mendapat penghargaan dari sesama. Motifnya adalah mengejar status sosial.

"Motif yang keliru seperti ini menyebabkan kebanyakan caleg menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Model politisi seperti ini parpol adalah pihak yang dianggap harus bertanggungjawab," ujar Dosen Universitas Sam Ratulangi Manado ini.

Baca: Di Gorontalo karena Beda Pilihan Caleg, Makam Pun Harus Dipindahkan, Ini Tanggapan PDIP Sulut

Baca: Beda Pilihan Caleg, Makam di Gorontalo Dibongkar, PSI: Pilihan Politik Itu hanya bagi yang Hidup

Baca: Hanya karena Beda Pilihan Caleg, Makam Kakek dan Cucu di Gorontalo Dibongkar, PSI Bilang Begini

Penyakit parpol selama ini adalah ketika pemilu, caleg yang disodorkan hanya sekadar asal comot, mereka tidak diuji kadar kualitas dan etikanya.

Bayangkan saja, belum terpilih sebagai anggota DPRD perilakunya sudah seperti ini. Tidak bisa dibayangkan jika yang bersangkutan sudah terpilih.

"Harusnya tugas parpol itu mempersiapkan politisi berkualitas bukan sekadar mencari orang untuk dipasang sebagai caleg. Mempersiapkan politisi mengandung makna bahwa parpol perlu menyeleksi kader-kadernya agar terseleksi caleg-caleg yang berkualitas," katanya.

Negara mensubsidi anggaran yang bersumber dari APBD dan APBN untuk setiap parpol dengan maksud agar parpol membina dan mendidik kader-kadernya agar memiliki kualitas dan integritas yang baik.

“Kasus di Gorontalo merupakan klimaks dari buruknya kaderisai parpol. Jika kaderisan berjalan bagus maka akan muncul kader-kader yang memiliki dedikasi dan pengabdian membangun masyarakat," ujarnya.

Jika seorang kader parpol melakukan itu terus-menerus maka kader itu akan menjadi pusat perhatian publik dan media sehingga akan mendorong popularitasnya.

"Banyak politisi yang menghalalkan segala cara untuk mendapat dukungan karena sebelumnya politisi itu kosong prestasi dan dedikasi sehingga tidak dikenal publik," jelas Liando. (fin)

Penulis: Finneke Wolajan
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved