Pemilik Lahan Segel Sekolah Guppi Bitung, Aktivitas Belajar Mengajar Pun Dilakukan di Luar Sekolah

Pemilik Lahan Segel SD Guppi Bitung, Aktivitas Belajar Mengajar Pun Dilakukan di Luar Sekolah

Pemilik Lahan Segel Sekolah Guppi Bitung, Aktivitas Belajar Mengajar Pun Dilakukan di Luar Sekolah
Tribun manado / Chintya Rantung
Pemilik lahan menyegel Sekolah Yayasan Guppi 

Pemilik Lahan Segel SD Guppi Bitung, Aktivitas Belajar Mengajar Pun Dilakukan di Luar Sekolah

TRIBUNMANADO.CO.ID, BITUNG - Siswa Sekolah Dasar Gabungan Usaha Pendidikan Islam (Guppi) Bitung, terpaksa tidak melaksanakan proses belajar mengajar di gedung sekolah akibat pemilik lahan menyegel sekolah, Kamis (10/1/2018).

Guru-guru pun terpaksa melakukan fingerprint atau mesin presensi dititipkan di rumah penjaga sekolah.

Salah satu guru SD Guppi Bitung yang tidak ingin menyebutkan nama mengaku karena sekolah disegel, aktivitas belajar mengajar dilakukan di luar sekolah.

"Mesin absensi fingerprint pun terpaksa dipegang penjaga sekolah, maka kami guru-guru mengambil daftar hadir itu harus datang ke rumah penjaga sekolah," katanya.

Guru terpaksa melakukan finger print di rumah penajag sekolah
Guru terpaksa melakukan finger print di rumah penajag sekolah (Tribun manado / Chintya Rantung)

Sementara Marten Tadanugi penjaga sekolah SD dan SMP Guppi Bitung menjelaskan, selain aktivitas belajar mengajar para siswa yang terpaksa dilakukan di masjid, guru-guru pun harus alat finger print untuk absen guru terpaksa dilakukan di rumah saya.

Dikatakannya, penyegelan sekolah tersebut akibat konflik yang tak kunjung selesai antara pemilik lahan dan Yayasan Guppi hingga berimbas kepada nasib siswa dan guru yang sudah dua hari tidak mengikuti proses belajar mengajar.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bitung Julius Ondang membeberkankan, penyegelalan tersebut akibat pihak Yayasan yang membawahi sekolah tidak koperatif.

"Kami sudah menjalankan mediasi antara kedua belah pihak, namun pihak Yayasan belum menepati kesepakatan yang sudah dibuat," bebernya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Guppi, Lukman Lamato membatah pernyataan kadis yang menyebut pihaknya tidak kooperatif dalam menjelankan kesepakatan.

"Padahal kami masih berupaya menyelesaikan pembayaran tersebut. Tapi kenapa sekolah malah disegel," katanya.

Kami pihak Yayasan, kata Lamato, akan tetap tunduk kepada kesepakatan itu, namun penyegelan sekolah itu sudah kami laporkan kepada dinas pendidikan.

"Soal penyegelan kami sudah laporkan kepada pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan, akan tetapi proses belajar mengajar jangan sampai terhenti hanya dengan persoalan ini," pungkasnya.

Penulis: Chintya Rantung
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved