SCPI Memasang Target Konservatif di Tahun Depan

Perusahaan farmasi PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk masih berupaya meningkatkan kinerja bisnisnya.

SCPI Memasang Target Konservatif di Tahun Depan
kontan
Bisnis Sari Roti mengembang 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Perusahaan farmasi PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk masih berupaya meningkatkan kinerja bisnisnya pada tahun depan. Maklumlah, persaingan bisnis farmasi terbilang berat.

Sekretaris Perusahaan PT Merck Sharp Dohme Pharma Tbk, Erwin Agung, memproyeksikan pertumbuhan bisnis pada tahun depan di level low single digit. Perusahaan ini juga terus memperbarui portofolio produknya demi menghadapi kompetisi bisnis farmasi yang semakin ketat.

Namun manajemen Merck Sharp belum bisa mempublikasikan alokasi dana belanja modal selama tahun depan. Satu hal yang pasti, emiten dengan kode saham SCPI di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini tidak berencana menggelar ekspansi besar-besaran.

"Sebab, pada tahun ini kami sudah melakukan investasi dan perubahan (revitalisasi) di lini manufaktur," kata dia saat ditemui KONTAN, usai paparan publik SCPI, Rabu (26/12).

Merck Sharp telah mengalokasikan dana US$ 1,5 sampai US$ 2 juta untuk meningkatkan produktivitas perusahaan. Salah satunya meng-upgrade fasilitas pabrik.

Erwin menyebutkan target bisnis hingga akhir tahun ini tak berbeda dengan tahun lalu. Sepanjang 2017, SCPI mencatatkan pendapatan bersih Rp 2,2 triliun.

Mengacu laporan keuangan hingga akhir September 2018, Merck Sharp membukukan pendapatan senilai Rp 1,62 triliun. Jumlah tersebut menurun 8,16% dibandingkan pendapatan di periode yang sama tahun lalu Rp 1,76 triliun.

Dengan pencapaian itu, SCPI tidak muluk-muluk mematok target pendapatan bersih hingga akhir tahun ini. "Penjualan turun karena gangguan suplai salah satu produk obat," sebut Erwin.

Produk tersebut ialah Sinemet, obat untuk penyakit parkinson. Erwin bilang, suplai yang terbatas menyebabkan SCPI tidak berjualan produk ini selama 2018.

Di sisi lain, Merck Sharp berusaha menekan beban pokok penjualan dari Rp 1,55 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi Rp 1,38 triliun di periode yang sama tahun ini. Alhasil, laba kotor naik 12,6% year-on-year (yoy) menjadi Rp 238 miliar pada kuartal III 2018.

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved