Proyeksi IHSG: Terdorong Data Eksternal, Begini Perkiraan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini diprediksi kembali menguat. Sentimen positif dari eksternal

Proyeksi IHSG: Terdorong Data Eksternal, Begini Perkiraan Rupiah
kompas.com
IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini diprediksi kembali menguat. Sentimen positif dari eksternal dianggap akan menjadi faktor pendukung kenaikan IHSG di awal pekan ini.

Head of LOTS Service Lotus Andalan Sekuritas Krishna Dwi Setiawan  mengatakan, ada dua sentimen utama yang mempengaruhi IHSG. Pertama, rencana kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).

Kedua, sentimen perang dagang antara China dan AS.  "Dua sentimen itu paling mendominasi," kata Krishna, Jumat (9/12). Ia menilai, sentimen positif masih terasa hingga Januari.

Dari dalam negeri, IHSG ditopang sentimen positif rilis cadangan devisa (cadev) November 2018 yang mencapai US$ 117,2 miliar. "Naiknya cadev pada bulan lalu cukup mendorong IHSG untuk kembali menguat pada Senin (10/12)," kata William Hartanto, Analis Panin Sekuritas.

Karena itu, William memperkirakan, IHSG akan naik ke kisaran 6.118–6.150. "Sektor properti dan industri dasar menarik, dengan pilihan saham ASRI, CTRA, BSDE, SMRA, CPIN dan JPFA," kata dia.

Krishna memperkirakan IHSG akan menguat dan bergerak antara 6.110–6.145. Dia merekomendasikan sektor perbankan, konstruksi dan properti dengan pilihan saham WSKT, WIKA, BBRI, BMRI, CTRA dan SMRA.

Sekadar mengingatkan, Jumat (7/12), IHSG menguat 0,18% di 6,126,35. Meski begitu, investor asing masih melakukan aksi jual dengan nilai jual bersih Rp 538,01 miliar.

Menghitung dolar AS dan rupiah
Menghitung dolar AS dan rupiah (kontan)

Proyeksi Rupiah: Terpapar Data Ekonomi AS

Rupiah berpotensi kembali menguat di awal pekan ini. Jumat (7/12), rupiah di pasar spot menguat 0,28% ke Rp 14.480 per dollar AS. Namun, dalam sepekan terakhir rupiah masih melemah 1,24%. Sementara, pada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah tercatat terdepresiasi 0,22% ke Rp 14.539 per dollar AS. Sedangkan dalam sepekan rupiah melemah 1,39%. 

Analis Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra memprediksikan, rupiah berpotensi menguat karena perekonomian Amerika Serikat yang cenderung melambat dalam. Selain itu, pergerakan yield obligasi pemerintah tenor pendek lebih tinggi daripada yield tenor panjang.

Ahmad Mikail, Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset menulis, hal tersebut akan membuat indeks dollar terus melemah. Akibatnya, ada potensi rupiah kembali menguat. Dia memperkirakan, dollar indeks diperkirakan melemah ke level 96,5-96,8 terhadap mata uang kuat utama dunia lainya.

Pelemahan tersebut didorong meningkatnya defisit perdagangan AS bulan Oktober 2018 menjadi US$ 55,5 miliar dibandingkan pada September 2018 yakni sebesar US$ 54,6 miliar tertinggi selama 10 tahun terakhir. Naiknya defisit tersebut semakin menambah kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi AS yang diperkirakan melemah.

Hal tersebut juga semakin mendorong penurunan yield US treasury. dan ekspektasi pelemahan ekonomi Amerika Serikat.

Karena itu, Ahmad memperkirakan, rupiah akan menguat ke level Rp 14.500-Rp 14.510 per dollar AS. Sementara Putu memproyeksikan, rupiah akan bergerak di Rp 14.280-Rp 14.640 per dollar AS. (Avanty N/Yusuf S/Intan Nirmala Sari)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved