Rupiah Terburuk di Asia dalam 3 Hari: Begini Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah. Sejak pertengahan November, mata uang Garuda

Rupiah Terburuk di Asia dalam 3 Hari: Begini Penyebabnya
kontan
Rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah. Sejak pertengahan November, mata uang Garuda sempat menguat ke posisi 14.200-an, menjauhi level terlemah dalam beberapa tahun terakhir, level 15.200 per dolar pada September - Oktober 2018.

Namun pada perdagangan Kamis (6/12) kemarin, rupiah menutup perdangangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pasar spot. Meski demikian, pelemahannya agak menipis dibandingkan pada pertengahan hari ini.

Pada pukul 16:00,  1 dolar AS dibanderol Rp 14.515 di pasar spot. Rupiah melemah 0,87% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Sementara pada peragangan pembukaan, rupiah membukukan pelemahan sebesar 0,28% ke level Rp 14.430/dolar AS.

Sebenarnya bukan hanya rupiah yang melemah. Hampir seluruh mata uang kawasan Asia anjlok di hadapan tekanan dolar AS alias greenback. Tapi, rupiah'>pelemahan rupiah menjadi yang terdalam. Bahkan, sudah 3 hari berturut-turut rupiah menjadi yang terburuk di kawasan.

Dolar AS sebenarnya sedang berada dalam posisi kurang baik, ditunjukkan indeks dolar AS terkoreksi sebesar 0,09%. Namun, hal ini tak mengindikasikan appetite investor yang sedang tinggi untuk mengoleksi instrumen berisiko seperti saham. Bursa saham utama kawasan Asia, ekamrin siang, justru ditransaksikan di zona merah.

Dolar AS terpukul lantaran investor banyak memburu yen untuk mengamankan dananya. Mata uang yen diburu seiring dengan penguatan dolar AS yang sudah cukup signifikan sepanjang tahun ini. Lebih lanjut, bagusnya rilis data ekonomi di Jepang juga menambah daya tarik yen.

Beberapa hari lalu, angka final untuk data Nikkei Manufacturing PMI Jepang periode November 2018 diumumkan sebesar 52,2, mengalahkan konsensus yang sebesar 51,8, seperti dilansir dari Trading Economics.

Di kawasan Asia, tampaknya dolar AS tetap menjadi pilihan investor, terlepas dari posisinya yang sedang keok melawan yen.

Akhir Tahun

Pelemahan tiga hari terkhit diduga tidak akan berlanjut sampai akhir tahun. Penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sebulan terkhiar, diperkirakan membawa rupiah bisa di kisaran Rp 14.000/dolar AS pada akhir tahun 2018.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo memprediksi, saat ini telah terjadi penguatan rupiah dalam jangka pendek karena kembali masuknya (capital inflow) investor asing ke bursa saham. Namun dana ini sifatnya berfluktuasi karena investor bisa saja melakukan profit taking.

"Portofolio inflow di ekuitas biasanya naik turun karena orang profit taking juga. Ini biasa, ya day-in dan day-out, profit taking dan lain-lain. Tapi kan tren membaik," ujar Kartika di Jakarta, Rabu (5/12).

Faktor lainnya, Indonesia yang lebih stabil. Kartika memprediksi defisit transaksi berjalan (CAD) pasti membaik di akhir tahun. Salah satu penyebabnya penurunan harga minyak. CAD akhir tahun bisa di bawah 3% di akhir tahun. Pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2018 pun menguat. Indikasi awalnya pertumbuhan kredit perbankan.

Kartika menambahkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang proaktif menaikkan suku bunga acuan direspons positif. Morgan Stanley sudah memberikan rekomendasi overweight, JP Morgan dan Goldman Sach juga merekomendasikan overweight yang memberikan sinyal sekarang waktu yang bagus untuk kembali membeli aset di Indonesia.

"Ini pertumbuhan masih solid, inflasi terkendali, CAD akan terus di bawah 3% karena harga minyak turun, dan juga kebijakan fiskal maupun moneter, dan juga akan masuk paket kebijakan pemerintah terkait investasi yang akan berjalan dan tahun depan akan mulai masuk B20, harusnya makin besar kan? Nah ini semua harapannya dalam jangka menengah CAD akan membaik," ujar Kartika. "Kalau kita ekspektasikan bisa Rp 14.000/US$ di akhir tahun," jelas Kartika. (cnbc)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved